Karayawan Unwar dicek suhu tubuhnya guna memastikan tidak terinfeksi COVID-19. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Meningkatnya jumlah PDP (Pasien Dalam Pengawasan) dan kasus positif COVID-19 di Bal memiliki makna dan ancaman serius bagi Bali. Hal ini menandakan bahwa penanganan dan pencegahan penularan virus asal Kota Wuhan, Tiongkok ini masih belum maksimal.

Dekan FKIK Unwar, dr. I Gusti Ngurah Anom Murdhana, Sp.FK., mengaku prihatin atas peningkatan ODP, PDP dan kasus positif COVID-19 di Bali. Pihaknya menilai himbauan pemerintah untuk mencegah penyebaran COVID-19 agar tetap di rumah, phsycal distancing, dan menerapkan pola PHBS kurang berhasil.

Padahal, langkah pencegahan paling efektif dilakukan, sebab sampai saat ini belum ditemukan obat/vaksin COVID-19 ini. “Kami di Universitas Warmadewa, dan khususnya di FKIK sejak awal sudah melakukan pencegahan penyebaran virus corona ini. Pegawai agar menjarak jarak, melakukan sanitasi secara mandiri, dan tempat-tempat atau ruangan kita lakukan sanitasi, sehingga tidak ada penyebaran secara lokal,” ujar dr. Anom Murdhana, Selasa (31/3).

Selain itu, upaya lain yang dilakukan yaitu dengan membentuk tim di tingkat FKIK Unwar, dan bahkan di tingkat universitas. Di samping juga menjadikan mahasiswa Unwar sebagai relawan sejak mereka diharuskan belajar dari rumah berbasis online.

Para relawan ini bertugas menyosialisasikan bahaya penyebaran COVID-19 kepada keluarga dan masyarakat dilingkungan masing-masing. Sebagai institusi pendidikan yang membidangi kesehatan, FKIK Unwar juga telah mengirim 2 orang tenaga medisnya sebagai relawan di laboratorium RSUP Sanglah untuk pemeriksaan COVID-19.

Baca juga:  Dua Negara di Eropa Ini Bersiap Longgarkan "Lockdown"

Bahkan, dalam waktu dekat akan dilakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang cara pencegahan penyebaran COVID-19.

Ketua Satgas Penanggulangan COVID-19 Unwar, Dr. dr. Dewa Ayu Putri Sri Masyeni, Sp.PD-KPTI., menambahkan penyuluhan yang dilakukan kepada masyarakat tidak harus bertatap muka yang mengumpulkan banyak orang, namun bisa dilakukan melalui media sosial maupun grup WA. Bahkan, pihaknya siap membantu pemerintah untuk melakukan rapid test maupun melalui pemeriksaan biomolekuler kepada ODP.

Sehingga diketahui jelas apakah ODP tersebut terinfeksi atau tidak. Dengan demikian, kasus COVID-19 di Bali bisa terdeteksi lebih awal untuk meminimalisir penyebarannya. “Untuk pemeriksaan biomol kami memiliki alat dan SDM yang memadai untuk melakukannya,” imbuhnya.

Kendati demikian, untuk melakukan pemeriksaan biomol masih menunggu regulasi dari pemerintah. Termasuk pemeriksaan rapid test. Sebab, hingga saat ini rapid test belum beredar secara resmi, karena masih diatur oleh pemerintah. “Mungkin ke depan kami mohon, kalau bisa pengadaan rapid test bisa dilakukan oleh sektor-sektor swasta melalui institusi pendidikan, sehingga kita bisa ikut membantu mengidentifikasi mana yang positif dan mana yang negatif COVID-19, sehingga kita bisa tracing lagi siapa saja yang diajak kontak oleh ODP yang dinyatakan positif ini,” ujarnya. (Winatha/balipost)

 

BAGIKAN