Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. (BP/WHO Document)

JENEWA, BALIPOST.com – Penyebaran COVID-19 makin masif. Hampir semua negara terinfeksi.

Bahkan, menurut Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, Senin (23/3) waktu setempat, dalam briefingnya dengan media, hanya perlu waktu 4 hari bagi virus ini menginfeksi 100 ribu orang di seluruh dunia. Ia mengatakan saat ini jumlah yang dilaporkan mencapai 300 ribu lebih kasus.

Disebutkannya, sekitar 67 hari diperlukan untuk mencapai 100 ribu kasus COVID-19 yang pertama. Kemudian, 11 hari untuk mencapai kasus 100 ribu yang kedua. “Dan hanya 4 hari untuk mencapai 100 ribu kasus yang ketiga. Anda bisa melihat akselerasi virus ini,” ungkapnya dalam video conference.

Dari laporan yang diterima WHO, kasus saat ini mencapai 332.930 dengan 14.510 kematian. Dibandingkan hari sebelumnya, dilaporkan ada penambahan kasus baru sebanyak 40.788 kasus. Sementara kematian bertambah 1.727 kasus.

Namun, ia mengingatkan jangan terpaku dengan statistik. Pihaknya yakin pandemi ini bisa dilawan.

Angka penting, karena mereka tidak sebatas angka. Sebab, mereka adalah manusia, yang hidup dan memiliki keluarga.

Baca juga:  Bangkrutnya Agen Perjalanan Thomas Cook Tak Pengaruhi Kunjungan Wisatawan Eropa

Untuk bisa menang melawan virus ini, ia mengatakan perlu ada upaya agresif dan taktik yang terukur, seperti mengetes seluruh kasus yang diduga terpapar, mengisolasi dan merawat kasus yang terkonfirmasi, melakukan penelusuran dan karantina seluruh kontak erat.

“Kami menyadari bahwa sejumlah negara berjuang dengan keterbatasan untuk melakukan langkah-langkah ini,” ujarnya.

Namun, ada sejumlah negara yang telah mengirimkan tim medis daruratnya untuk membantu pasien dan melatih tenaga medis di negara-negara yang memerlukan bantuan. “Ini merupakan contoh solidaritas internasional yang sangat baik,” ungkapnya.

Namun, ia mengingatkan tenaga medis hanya bisa melakukan pekerjaannya jika mereka memiliki keamanan dalam melakukannya. WHO, sebutnya, mendapat laporan bahwa sejumlah tenaga medis terjangkit COVID-19.

“Walaupun kita melakukan segalanya dengan benar, jika kita tidak memprioritaskan perlindungan tenaga medis, banyak orang yang akan mati karena tenaga medis yang bisa menyelamatkan justru terpapar. Saat ini WHO berupaya keras bekerjasama dengan sejumlah partner merasionalisasi dan memprioritaskan alat perlindungan diri,” tegasnya. (Diah Dewi/balipost)