Suasana workshop terkait drama gong klasik. (BP/rin)

DENPASAR, BALIPOST.com – Bahasa yang digunakan pragina dalam drama gong dikatakan masih “mekalukan” atau tak tepat. Pemilihan tema pun terkadang terkesan dipaksakan sehingga hanya muncul di akhir cerita. Demikian terungkap dalam kriyaloka (workshop) serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLII Tahun 2020 “Atma Kerthi : Penyucian Jiwa Paripurna”.

Kriyaloka yang menghadirkan narasumber Seniman Drama Gong sekaligus Akademisi, Dr. Drs. I Wayan Sugita, M. Si ini berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (5/3). “Materi workshop saya berpegangan kepada persyaratan yang telah ditentukan oleh panitia PKB. Utamanya yang menjadi penekanan adalah tentang tema,” ujar Sugita.

Ia mencontohkan cerita harus dikaitkan dengan tema agar tidak hanya sekedar muncul di akhir cerita. Pertunjukan drama gong umumnya seperti itu.

Tapi untuk PKB kali ini agar masuk dan dirangkai dalam cerita secara utuh. Beberapa yang cocok diangkat adalah cerita tentang Bima Swarga dan Sang Jaratkaru. “Memang terbatas untuk Atma Kerthi, yang ada kaitannya dengan swarga-lah,” jelas tokoh dan pembina drama gong yang dikenal dengan karakter patih agung ini.

Selain cerita, Sugita juga menekankan soal bahasa harus sesuai dengan anggah-ungguhing basa Bali dan sor singgih yang benar. Terkadang, pemain atau pragina drama gong yang sudah senior pun masih sering “mekalukan”.

Baca juga:  Presiden Jokowi Bakal Tancapkan Kayonan dan Naik Mobil Hias di PKB 2017

Katakanlah dalam penggunaan kata ” dane” dan “sane”. “Dane kepada jajaran kita. Sane itu beda, yang itu, menunjuk. Kemudian ada kata ida, berarti untuk orang di atas. Harus tepat penggunaannya,” jelasnya.

Menurut Sugita, karakter atau ciri masing-masing peran harus konsisten dan tidak boleh bercampur. Untuk lelucon, diharapkan tidak vulgar dan tidak porno. Apalagi, drama gong menjadi salah satu materi parade dalam PKB XLII.

Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ni Wayan Sulastriani mengatakan kriyaloka memang dilaksanakan terlebih dulu sebelum PKB XLII dibuka secara resmi. Terkait topik drama gong klasik, tujuannya untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai pakem drama gong sesungguhnya di era 70an.

“Sehingga nantinya para duta parade drama gong dari Kabupaten/kota se Bali lebih bisa menuangkan karya garapan drama gongnya dan semaksimal mungkin tampil dalam PKB sesuai kriteria yang sudah ditetapkan,” jelasnya.

Menurut Sulastriani, saat ini baru empat Kabupaten/kota yang memastikan tampil dalam parade drama gong yakni Denpasar, Badung, Tabanan dan Bangli. Pihaknya berharap bisa bertambah untuk menggeliatkan lagi seni klasik dan seni tradisi sesuai visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. (Rindra Devita/balipost)