Suasana di Desa Tista. (BP/dok)

TABANAN, BALIPOST.com – Setiap desa kini berupaya mengeksplor seluruh potensi yang ada demi meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Apalagi wisata alam dan budaya sangat diminati wisatawan asing. Seperti yang dilakukan Desa Tista, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan.

Meski baru mengantongi SK sejak Oktober 2016, namun Desa Wisata Tista sudah mampu menunjukkan prestasinya. Di mana tahun 2019 ini berhasil meraih posisi tiga ‘’Desa Wisata Awards’’ yang digelar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali. Di tengah keberadaan desa wisata yang sudah ada, bagaimana peran desa adat mendukung visi Pemprov Bali ‘’Nangun Sat Kerthi Loka Bali’’ Menuju Bali Era Baru?

Terkait hal itu, Bendesa Adat Tista I Made Kertia mengaku menyambut baik kegiatan sosialisasi visi Gubernur Bali ‘’Nangun Sat Kerthi Loka Bali’’ Menuju Bali Era Baru dari desa ke desa. Sosialisasi yang digelar Pemprov Bali bekerja sama dengan Bali TV dan Bali Post serta Yayasan Dharma Naradha ini diharapkan terus berlanjut, baik menyangkut kemajuan desa adat, terkait perda, pergub dan juga petunjuk teknis penyusunan APBDes. Untuk itu, ke depan tidak salah dalam mengimplementasikan kepada krama desa adat.

Terkait penerapan visi Gubernur Bali dalam memberdayakan desa adat, katanya, di salah satu banjar adat, Desa Tista sudah memiliki kelompok sekaa banten. Selama ini kelompok tersebut baru melayani kebutuhan krama Hindu sebatas di lingkungan banjar adat. Meski begitu sekaa banten ini mampu berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat yang total jumlah penduduknya mencapai 525 KK. ‘’Bercermin dari itu, kami sebenarnya sudah menjalankan visi Pemprov Bali, khususnya dalam pemberdayaan sekaa yang berbasiskan budaya,’’ tuturnya, belum lama ini.

Selain itu, potensi lainnya yakni kondisi alam yang hijau. Keindahan alam Desa Tista juga sudah banyak dilirik wisatawan. Potensi tersebut kemudian diadopsi dengan memadukan budaya dan seni yang ada selama ini. Salah satunya pelestarian seni yakni tari Legong Keraton dan tari Calonarang. Kesenian ini juga dimanfaatkan sebagai tontonan oleh wisatawan yang datang. Padahal, mereka sedang latihan menari. ‘’Para wisatawan bisa lebih leluasa berinteraksi, dibandingkan ketika menonton tarian saat dipentaskan pada momen upacara seperti pujawali dan seremonial lainnya,’’ tandasnya.

Baca juga:  Wujudkan Nangun Sat Kerthi Loka Bali, TP PKK Buat Program Tepat Sasaran

Tak hanya itu, pihaknya juga mengembangkan terkait pawongan, palemahan dan parahyangan. Pawongan terkait kegiatan bahasa Bali untuk PAUD yang sudah direncanakan di tahun 2020. Selain itu juga penataan sampah dan kegiatan menggali seni wali atau bebali, serta sekaa shanti di masing-masing banjar. Semua itu akan diupayakan di tingkat desa. ‘’Potensi yang kita punya ada desa wisata, kerja sama dengan desa dinas. Kebetulan Desa Adat Tista memiliki satu desa dinas terdiri dari empat banjar dinas dan empat banjar adat, sehingga tetap bersinergi,’’ terangnya.

Empat banjar adat tersebut di antaranya Banjar Dangin Pangkung, Banjar Lebah, Banjar Dauh Pangkung dan Banjar Carik. Masing-masing banjar ini memiliki potensi seni Bali dan seni wali. Ada tari sakral Legong Kraton Andir, ini khusus tarian yang berhubungan dengan Calonarang dan dipentaskan setiap piodalan di Pura Ulundesa dan Pura Pempatan Agung. Dan di Banjar Dangin Pangkung juga ada kegiatan Calonarang dengan pembukaan tari Arja. Sementara di Banjar Lebah juga ada tarian Calonarang dengan pembukaan banyolan. Sedangkan di Banjar Dangin Pangkung hanya ada gong karena merupakan jenis kreasi anak-anak.

Dengan potensi seni dan budaya yang dimiliki ini, tidak salah jika Desa Adat Tista menyiapkan potensi budaya sebagai penunjang pariwisata yang sudah ada. ‘’Kami juga punya Beji di masing-masing banjar yang memiliki karakter berbeda untuk wisata spiritual. Hanya Beji Taman Sari di Banjar Carik, sekaligus jadi beji-nya desa adat untuk Kahyangan Tiga. Ini yang masih ditata terus,’’ terangnya. (Puspawati/kmb/balipost)