Kadis Kesehatan Gianyar, drg A.A. Gede Suputra M.Kes. (BP/Istimewa)

GIANYAR, BALIPOST.com – Pemerintah Kabupaten Gianyar kini tengah gencar menangani masalah stunting di kawasan seni ini. Terlebih berdasarkan data angka kelahiran stunting sempat mencapai 40,9 persen lebih pada 2013. Hal ini diungkapkan Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar drg A.A. Gede Suputra M.Kes.

Agung Saputra menjelaskan stunting merupakan kondisi agal tumbuh yang dialami oleh balita, sebagai konsekwensi dari kekurangan gizi kronis yang dialami sejak berada dalam kandungan, smapai pada 1000 hari pertama kehidupan. Secara kasat mata balita stunting dapat di tandai dengan kodisi fisik tinggi badan lebih pendek dari anak mormal seusianya.

Ditambahkan dampak nonfisik dari balita stunting yakni intelektual yang tidak bisa tumbuh dengan baik akibat jumlah sel yang terbentuk pada otak tidak optimal. “Bila beranjak dewasa balita yang mengalami stunting akan rentan terhadap penyakit dan kurang breprestasi di sekolah,” katanya.

Baca juga:  Bedah Rumah 2020, Gianyar Anggarkan Rp 11 Miliar

Berdasarkan pada data hasil risert kesehatan dasar (Riskesdas) pada 2013 diumumkan tingginya angka stunting pada balita di Kabupaten Gianyar, yakni mencapai 40,9 persen. Mendapati data itu pemerintah pun melakukan upaya penurunan.

Setelah dilakukan intervensi, pada 2018 kasus stunting sudah turun menjadi 22 persen. Sementara per Februari 2019 dengan operasi timbang, stunting di Kabupaten Gianyar sudah di angka 16 persen. “Penurunan angka stunting ini perlu perhatian dari semua elemen,” tandasnya. (Adv/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.