Ilustrasi. (BP/istimewa)

Keluarga yang harmonis, tentu menjadi idaman setiap orang. Harmonis, tentu bukan semata-mata tidak ada masalah. Tidak ada persoalan atau hal-hal yang bisa menimbulkan konflik intern. Harmonis dalam arti serta konteks yang dinamis. Ketika ada masalah atau hal-hal yang bisa menjadi pemicu instabilitas dalam tubuh keluarga, maka ada solusi yang bisa dibicarakan secara demokratis.

Ada pembicaraan, komunikasi, pendekatan, serta persuasi yang dilakukan dengan kepala dingin. Unsur demokratis menjadi sangat peting karena tidak ada para pihak yang memaksakan kehendak.

Keputusan atau hasil serta solusi yang dicapai merupakan kata sepakat yang secara aklamasi disetujui. Tidak semua orang merasa senang. Tidak semua orang serta anggota keluarga merasa puas. Tetapi, semua kepentingan para pihak terakomodasi secara objektif. Ini barangkali yang dimaksudkan harmonis dalam era kekinian ini.

Dalam masalah apa? Tentu, dalam semua masalah. Kondisi saat ini, masalah semakin kompleks. Orang-orang pun terkadang mudah sekali tersinggung, terintimidasi, terprovokasi dan sebagainya.

Sehingga, bibit konflik itu selalu ada. Akan tambah subur dan tumbuh berkembang manakala semua pihak tidak mampu menahan diri. Dan, ada pihak-pihak lain yang mengambil keuntungan. Ibarat peribahasa, ada yang mengail di air keruh.

Maka dari itu, perlu kesepahaman, pengendalian diri, serta keterbukaan masing-masing pihak untuk segera mencari solusi. Hasil yang diharapkan menyenangkan serta memuaskan semua orang walaupun sejatinya tidak semua kepentingan atau tuntutannya terpenuhi.

Baca juga:  Dimediasi DPRD, Perusda Bali Talangi Gaji Karyawan UP Pulukan

Apalagi dalam hal warisan. Semua daerah mempunyai karakter serta sistem tersendiri. Hal ini tentu saja sangat dipengaruhi oleh budaya dan adat setemat. Bali punya kekhasan sendiri. Begitu juga daerah Minangkabau, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan daerah-daerah lainnya. Juga belahan dunia yang lain. Banyak versi dan banyak cerita mengenai warisan. Dari yang memunculkan cerita bahagia sampai yang berakhir tragis. Seperti pepatah pula, lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalangnya.

Jadi, kembali dalam konteks kekinian, meskipun telah diatur dalam hukum adat serta hukum positif tentu hal yang paling penting adalah bagaimana komunikasi itu dibangun. Apalagi ini menyangkut keluarga, keturunan satu darah.

Logikanya, apa yang tidak bisa dibicarakan secara baik-baik? Toh, ini menyangkut keluarga. Sumbernya sama. Ada garis keturunan yang sama. Semua bisa dibicarakan secara jernih. Tidak semuanya berakhir di meja hijau.

Juga dalam konteks yang lain. Kita semua ini sebagai pewaris negeri. Kalau saat ini sedang banyak demo atau ada gejolak di berbagai tempat, tentu mesti ada solusi lewat saluran komunikasi.

Ini perlu dibangun serta dikembangkan. Jangan sampai menjadi konflik berdarah-darah. Sebab, kita juga yang akhirnya merugi. Sedangkan yang lain, yang tidak suka kita harmonis, terus menabuh genderang agar kita terus berkonflik. Ini yang patut direnungkan.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.