Kepala SMPN 1 Banjarangkan saat memanggil siswa dan kedua orangtuanya. (BP/gik)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Kasus perkelahian siswa di Klungkung kembali membuat heboh di media sosial. Kedua pelajar tersebut bersekolah di SMPN 1 Banjarangkan. Pihak sekolah yang mengetahui perkelahian di luar jam sekolah itu beredar luas di medsos, langsung memanggil kedua siswa berikut kedua orangtuanya, Senin (9/9).

Kedua siswa tersebut diketahui berinisial DG (14) dan SM (14). Keduanya terlibat duel ketika masih mengenakan seragam sepulang sekolah. Perkelahian berlangsung selama sekitar dua menit dan direkam langsung sesama siswa. Dalam video tidak jelas apa yang memicu perkelahian. Masyarakat Klungkung lantas tercengang, setelah siswa di sekitarnya terlihat mengenakan seragam SMPN 1 Banjarangkan. Video ini kemudian viral di tengah masyarakat dan menyayangkan siswa SMP berulah senekat itu di luar sekolah.

Kepala SMPN 1 Banjarangkan I Nengah Suradnya bertindak cepat agar persoalan tersebut tidak berlarut-larut. Sebab, masalah ini begitu sensitif, karena bisa mencoreng citra pendidikan di Bumi Serombotan. Pihaknya memanggil dua siswa yang terlibat duel, DG (14) dan SM (14), berikut kedua orangtua masing-masing. Pertemuan juga dihadiri jajaran kepolisian dari Polsek Banjarangkan dan Pengawas SMP Made Arnawa.

Baca juga:  Salah Pergaulan, Anak Rawan Terjerumus Narkoba

Mereka dikumpulkan di ruang kepala sekolah dan ditanya duduk persoalannya. Keduanya mengakui aktor yang bertengkar hebat di video itu adalah mereka. Peristiwa tersebut terjadi Sabtu lalu saat pulang sekolah. Dalam pertemuan terungkap bahwa perkelahiran dipicu masalah sepele. Duel terjadi setelah DG melempar sandal pada Kamis (5/9) lalu. Tanpa disadarinya ternyata sandal itu menyasar kepala SM.

Peristiwa itu membuat SM marah. Setiap kali ketemu, DG dan SM bersitegang. Akhirnya terjadilah perkelahian di Jalan Semagung, Desa Tusan. Peristiwa ini direkam dan disebar di media sosial, sehingga SMPN 1 Banjarangkan menjadi sorotan banyak pihak. Akibat perkelahian tersebut, keduanya mengalami luka serius pada wajah. “Kami ingin selesaikan persoalan ini di sekolah. Kami bina dulu karena mereka masih anak-anak,” kata Suradnya. (Bagiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.