Anggota DPRD Klungkung usai dilantik pada Rabu (14/8). (BP/gik)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Setelah melewati pileg serentak, sebanyak 30 anggota terpilih akhirnya dilantik dalam acara Rapat Paripurna Peresmian Pengangkatan dan Pengucapan Sumpah/Janji DPRD Klungkung Masa Jabatan 2019-2024, di Balai Budaya Ida I Dewa Agung Istri Kanya, Rabu (14/8). Pada periode kali ini, lembaga legislatif diisi lebih banyak Srikandi atau tokoh perempuan. Tercatat ada enam legislator perempuan yang bakal mewarnai kursi legislatif.

Keenam Srikandi tersebut, adalah Ni Ketut Suwerni (PDIP-Incumbent), Sri Handayani (Hanura-Incumbent), Ida Ayu Made Gayatri (Nasdem-Incumbent), Ketut Sukarni (PDIP-New Comer), Luh Andriani (Hanura-Incumbent) dan Ketut Martini (Gerindra-New Comer). Mereka kompak tampil cantik dalam acara tersebut, mengenakan kebaya putih.

Setelah acara pelantikan, mereka nampak berkumpul dan berkomunikasi satu sama lain, agar saling mengenal sebagai keterwakilan perempuan di kursi legislatif. Salah satu dari mereka, Ida Ayu Made Gayatri, menyampaikan bahwa dalam diskusi mereka sesama Srikandi Dewan Klungkung, sepakat bahwa hak-hak masyarakat khususnya perempuan harus diperjuangkan bersama.

Tokoh perempuan harus berani berbicara, bukan hanya sebagai pelengkap kursi atau keterwakilan perempuan saja. “Saat berjuang (pileg), kami memang beda warna partai. Tetapi, ketika sudah masuk ke dalam lembaga, sebagai representasi masyarakat, harus bersatu,” kata Gayatri, Politisi Nasdem dari Dapil Kecamatan Banjarangkan.

Baca juga:  Rencana Perda PLP2B Disambut Positif DPRD Klungkung

Demikian juga politisi lainnya, seperti Sri Handayani. Ia sepakat melebur diri dalam semangat yang sama, mengawal kepentingan perempuan. Agar, perempuan juga semakin yakin punya wakil yang bisa memperjuangkan aspirasi mereka di lembaga legislatif periode ini.

Selain persoalan perempuan, Gayatri sendiri menyoroti persoalan narkoba yang semakin merusak mental generasi muda Klungkung. Sebab, belakangan ini sudah semakin mengkhawatirkan.

Kasus terakhir, adalah tertangkapnya anak pejabat saat pesta narkoba di kamar kos kekasihnya. Ini sebagai isu strategis untuk mendesak eksekutif dan lembaga terkait memiliki langkah-langkah yang lebih efektif dalam menekan peredaran gelap narkoba. Bukan langkah normatif, yang hanya itu-itu saja.

Selain itu, ada banyak persoalan umum lainnya yang ingin didorong di lembaga legislatif agar segera direalisasikan eksekutif. Seperti penataan Goa Jepang dan ragam persoalan lain pada dapilnya di Kecamatan Banjarangkan, sebagai pintu masuk Klungkung dari barat. (Bagiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.