Peserta Siswa dan Guru Ajeg Bali mengikuti yoga penyucian diri di Pasraman Dalem Ketut, Lumajang, Tabanan. (BP/wan)

Saat ini, semua orang dengan mudah mengucapkan ajeg Bali. Namun, perilakunya masih saja diam di tempat. Sangat menarik disimak kalau salah satu Guru Ajeg Bali 2019, Komang Warsa, menilai sudah saatnya kita semua atau krama Bali untuk mengisi ulang kebaliannya.

Konsep ini mengajak kita mengintrospeksi diri sejauh mana kita berbuat untuk ajeg Bali. Ajeg Bali jangan diartikan parsial bahwa kita harus kembali pada zaman kuno, dll. Atau jangan sampai menyebut orang yang mengajegkan Bali adalah mereka yang sibuk ngurus banten dan upakara.

Bukan itu yang dimaksud. Ajeg Bali memiliki pengertian yang luas dan fleksibel sesuai dengan kemajuan zaman. Ketika kini Bali diserbu oleh pengaruh globalisasi, ketika lapangan pekerjaann di Bali semakin sempit, krama Bali harus merespons dengan tepat. Kuatkan karakter Bali serta menjadi SDM Bali yang berdaya saing tinggi. Salah satunya yakni memguasai bahasa asing.

Pandangan krama Bali ke depan harus progresif, cinta sesama dan perkuat karakter kebaliannya. Sekalipun bekerja di luar negeri, namun budaya Balinya tetap kuat. Namun, perlu diatur jangan semua SDM baik Bali dikirim ke luar negeri, bahayanya kita akan kehilangan generasi terbaik di tempat kelahiran sendiri.

Ini dialami oleh Filipina yang sempat mengalami stagnan pertumbuhan SDM di dalam negeri. Pasalnya, semua warga Filipina bangga dengan keluarganya yang sukses bekerja di luar negeri. Namun pada dekade tertentu, negaranya kehabisan stok SDM, yang membuat negara kewalahan mengelola potensi daerahnya.

Jadi, prinsipnya, kita boleh berwawasan global dan menguasai pekerjaan di luar negeri, asalkan SDM yang kita kirim adalah yang berkualitas. SDM Bali yang mampu merebut pasar untuk kedudukan manajer dan setingkatnya. Jangan kita bangga hanya mengirim karyawan spa, pembantu rumah tangga dan sejenisnya. Krama Bali yang berkualitas adalah yang mampu merebut posisi penting di luar negeri.

Baca juga:  Paiketan Krama Bali Gelar Symposium Suksma Bali 2018

Program pesraman Siswa Ajeg Bali (SAB) dan Guru Ajeg Bali (GAB) 2019 guna mengingatkan kita bersama bahwa kekhawatiran 20 tahun lalu soal bahaya yang mengancam Bali sudah terjadi dan kita tak boleh diam. Bali dikejar oleh narkoba, kejahatan transinternasional, AIDS, hingga krisis mental generasi mudanya. Termasuk gampang berputus asa, emosinya labil, dan makin goyah kecerdasan spiritualnya.

Kini, kita perlu menyatukan kekuatan guna memperkuat karakter kebalian orang Bali. Gubernur Bali sudah mengawali dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali serta sejumlah pergub yang memperkuat budaya Bali. Makanya dalam menghadapi tantangan ke depan, kita harus matang dengan kebalian kita.

Belajar secara utuh seperti menjadikan agama memperkuat adat dan budaya, bukan sebaliknya yakni adat dan budaya memperkuat agama. Dengan demikian, Agama Hindu bukan lagi disebut agama non-wahyu, agama tontotan, dan lain-lain.

Menjadi tugas kita bersama  perlunya penanaman pendidikan karakter anak muda Bali yang ternyata  masih banyak perlu dibenahi. Salah satunya anak muda kita saat ini perlu ditingkatkan dalam bidang minat baca atau literasi, kemudian wajib menguasai bahasa asing.

Orangtua perlu meningkatkan peran sertanya dalam pendidikan karakter. Adat tak boleh terlalu keras menekan warga agar kita semua bisa hidup nyaman tanpa beban. Prinsipnya, kita perlu mengisi ulang kebalian kita. Salah satunya yakni krama Bali jangan hanya jor-joran mapunia untuk membangun pura, melainkan juga giat membangun ekonomi rakyat dan mapunia untuk membantu bidang pendidikan dan KK miskin.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.