TABANAN, BALIPOST.com – Sudah menjadi tradisi turun temurun, warga desa adat Bongan Gede Tabanan merayakan Kuningan dengan tradisi unik yang dikenal dengan nama “Mesuryak”. Upacara menyebarkan uang yang kemudian diperebutkan warga ini diyakini sebagai pengantar para leluhur kembali ke alam surga.

Tradisi ini berlangsung secara turun temurun di Banjar Bongan Gede, Desa Bongan Kecamatan Tabanan. Entah kapan mulainya digelar tradisi ini, para tetua di Banjar Bongan Gede pun tidak mengetahuinya dengan pasti.

Yang jelas tradisi ini sudah ada sejak dahulu kala dan tetap lestari hingga saat ini. Bahkan tradisi mesuryak ini dibawa oleh masyarakat Bongan yang transmigrasi ke Lampung sekitar tahun 1958.

Menurut I Nyoman Suandhi (60) warga Bongan Gede yang transmigrasi ke Lampung sejak 1958 dan saat ini sedang merayakan Kuningan di Bongan Gede, warga Bali yang transmigrasi ke Lampung tetap mempertahankan adat dan tradisi yang ada di Bali. Termasuk tradisi mesuryak. “Kami di Lampung juga tetap menjalankan tradisi mesuryak setiap enam bulan sekali tepatnya di hari raya Kuningan,” jelasnya disela-sela mesuryak, Sabtu (3/8).

Ia yang tinggal di Desa Rama Dewa, Kecamatan Seputih Raman, Lampung Tengah menambahkan, prosesi mesuryak di Lampung juga sama persis dengan yang ada di Bali. “Hanya saja tidak seramai di Bali,” terangnya.

Baca juga:  Jelang Kuningan, Harga Janur Meroket

Pensiunan Kepala Sekolah SD ini menuturkan sebelum raja dewata (para leluhur) diantar menuju surga dilakukan prosesi mesuryak. “Kita antarkan leluhur kembali ke surga dengan penuh suka cita dan bersorak atau mesuryak,” jelasnya.

Dikatakanya tidak hanya tradisi mesuryak yang dibawa ke Lampung, tradisi mepatung juga masih dipertahankan masyarakat Bali yang ada di Lampung. “Jadi semua tradisi adat dan budaya yang ada di Bali kami terapkan di Lampung namun sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di sana,” jelasnya.

Seperti biasa prosesi tradisi mesuryak saat Kuningan diawali dengan melangsungkan persembahyangan di Pura Dalem. Lalu, dilanjutkan persembahyangan di masing-masing sanggah merajan sekitar pukul 09.30 Wita.

Setelah prosesi persembahyangan di masing-masing sanggah merajan selesai, kemudian banten upacara hari raya Kuningan yang merupakan simbol dari para leluhur dibawa ke kori agung rumah masing-masing. Di depan pintu atau kori,  segala macam banten sesanjen diupacarai oleh pemangku ataupun tetua, kemudian dilanjutkan dengan prosesi mesuryak.

Memberi leluhur bekal berupa uang kertas maupun uang logam. Uang tersebut kemudian dilemparkan ke udara sambil mesuryak (bersorak) lalu diperebutkan oleh warga.

Besaran uang yang digunakan mesuryak tergantung dari kemampuan warga. Yang paling tinggi bisa sampai Rp 5 Juta paling rendah Rp 500 ribu. (Puspawati/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.