DENPASAR, BALIPOST.com – Puluhan anak tukang suwun di Pasar Badung, asyik mencoret-coret tembok sebuah ruangan. Ruangan yang terletak di lantai 1, depan lift Pasar Badung itu merupakan ruangan yang akan dijadikan Pojok Baca bagi anak-anak tukang suwun itu.

Mereka dibimbing Sidi Visatya, seniman mural untuk membuat konsep pohon cita-cita. Pohon-pohon murah itu akan diisi cap tangan masing-masing anak sebagai daun dari pohon itu. Pohon itu juga akan digantungkan cita-cita sejumlah anak tersebut.

Sejak 2011, anak-anak tukang suwun yang berada di sekitar Pasar Badung dirangkul oleh Yayasan Lentera Anak Bali (LAB). Para anak itu diberikan bimbingan moral, mental dan motivasi.

Ni Luh Anggreni, Relawan LAB menuturkan, tujuan utamanya agar anak-anak tersebut termotivasi untuk melanjutkan sekolah. Hampir semua anak-@nak tukang suwun yang berasal dari Kubu, Karangasem.

Memperingati Hari Anak, LAB bersinergi dengan Pemerintah Kota Denpasar memfasilitasi anak-anak urban dari Karangasem ini untuk diberikan tempat untuk anak-anak tersebut sembari menunggu ibunya menjadi tukang suwun. LAB memfasilitasi dan memotivasi mereka agar melanjutkan pendidikan formalnya. Karena sebagian besar orang tua mereka berpikir sempit, mengekploitasi anaknya untuk bekerja.

Baca juga:  Mendag Kunjungi Proyek Pasar Badung, Realisasi Pembangunan Capai 19 Persen

Setelah anak-anak tersebut bisa bekerja, setidaknya menjadi tukang suwun, tidak ada halangan lagi untuk mereka bisa menikah, bahkan di usia muda sekalipun. LAB mendukung anak-anak tersebut agar melanjutkan sekolahnya hingga ke jenjang yang lebih tinggi.

Mengingat generasi pertama yang diasuh LAB rata-rata menikah di usia muda. “Tapi mereka ada peningkatan, dari awalnya tidak sekolah, mulai terbuka untuk sekolah. Cita-cita mereka juga sederhana. Ketika ditanya cita-cita, yang laki-laki menjawab jadi satpam, jadi tukang parkir, jadi buruh bangunan. Sedangkan yang wanita bercita-cita jadi terapis spa. Sederhana sekali cita-cita mereka, makanya ketika ada satu anak bilang bercita-cita jadi perawat, kami dukung betul dan pendekatan dengan orang tuanya,” tuturnya.

Dalam kegiatan mural tersebut juga didukung oleh Dian Suri, pemilik Kunang Jewelery. Untuk itu ia berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk membuat program pengembangan skill yang tidak didapat dari sekolah formal.

Program lainnya adalah anak-anak juga diajak ke instansi pemadam kebakaran, ke tempat membuat keramik dan baking class. Rencananya hasil karya anak-anak tersebut seperti membuat keramik dipamerkan. Diharapkan dapat membangun kepercayaan diri anak-anak. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.