Abrasi terjadi di Pantai Tegal Besar. Kondisi ini mengancam bangunan vila yang sebelumnya jauh dari dari bibir pantai. (BP/gik)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Abrasi di sepanjang Pantai Tegal Besar, Desa Negari, Kecamatan Banjarangkan, makin mengkhawatirkan. Setelah abrasi menghancurkan tembok panyengker salah satu villa, kini gelombang abrasi terus mengganas dan mulai menghancurkan kolam renang sebuah vila di pesisir pantai itu.

Dari pantauan Kamis (18/7), bagian kolam yang awalnya cukup jauh dari garis pantai ini, kini hanya tinggal beberapa meter saja. Gelombang yang mengganas mulai menyerang bangunan kolam tersebut.

Situasi demikian membuat wisatawan enggan memanfaatkan fasilitas akomodasi pariwisata ini. Vila ini sudah mulai kosong sejak beberapa bulan, karena ganasnya abrasi di pantai ini.

Salah satu staf vila, Wayan Eka, menyampaikan wisatawan khawatir karena dirasakan sudah tidak aman. Jika tidak segera tertangani, dia khawatir Villa Rosita Tegal Besar tempatnya bekerja, bernasib sama dengan vila lainnya yang terletak sekitar 20 meter di timur vila ini.

Bangunannya lebih dulu ambruk sebagai dampak dari abrasi yang tak kunjung tertangani. Pihaknya berharap pemerintah melalui Balai Wilayah Sungai Bali Penida bisa segera mungkin melakukan penanganan abrasi, dengan memasang crib atau dengan memasang struktur batu bronjong.

Baca juga:  Beredar Nama Calon Lolos ke DPR RI dan DPD, Ini Pernyataan KPU Bali

Bila tidak, abrasi akan semakin merusak pantai yang dikenal sebagai habitat penyu tersebut. “Dalam setahun terakhir, sekitar 30 meter daratan di tepi pantai sudah hilang,” tegasnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Kawasan Pemukiman (PU-PRKP) A.A Gde Lesmana, belum lama ini mengaku sudah mengetahui dampak abrasi di Pantai Tegal Besar. Namun, pihaknya menyampaikan tahun ini tidak bisa melakukan penanganan dengan APBD.

Sebab, sejak perencanaan dan pelaksanaan, penanganan abrasi tahun ini, sudah diprioritaskan di Nusa Penida, tepatnya di Pantai Batununggul. Di sana abrasi juga tidak kalah serius, karena sudah mengancam keberadaan setra setempat.

Dalam APBD Dinas PU-PRKP tahun ini, penanganan abrasi hanya dianggarkan sebesar Rp 2 miliar. Anggaran sebesar itu, hanya mampu menyelesaikan penanganan abrasi sekitar 100 meter. “Karena keterbatasan anggaran, penanganan abrasi kami lakukan secara bertahap,” kata Lesmana. (Bagiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.