Ilustrasi. (BP/dok)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Tahun ini, bertambah lagi dua perusahaan di Bali yang IPO (Initial Public Offerings) atau go public. Total sampai saat ini ada lima perusahaan di Bali yang melantai di Bursa Efek.

“Dua perusahaan yang baru melantai di bursa yaitu PT Nusantara Properti Internasional serta Bali United,” kata I Gusti Agus Andiyasa, Kepala Kantor Perwakilan BEI Bali di Sanur.

Dua perusahaan ini bergerak di bidang property dan olahraga. Sebelumnya telah ada tiga perusahan yang sudah go public, yaitu PT Bukit Uluwatu Villa, PT Bali Towerindo Sentra, dan PT Island Concepts Indonesia.

Agus menilai perusahaan asli Bali memiliki potensi untuk go public. Umumnya perusahaan-perusahaan tersebut bergerak di bidang usaha properti, hotel, villa dan komunikasi sesuai dengan karakteristik Bali sebagai daerah tujuan pariwisata dunia.

“Ke depannya selain Cocomart yang akan go public, masih ada tiga perusahaan lokal lagi telah siap-siap melantai. Tiga perusahaan tersebut sudah proses tanda tangan di penjaminan emisi untuk mengecek layak go public, harga dan dana terserap berapa jika go public,” ujarnya.

Ia berharap semakin banyak perusahaan di Bali yang segera menyusul go public mengingat bursa telah merubah aturan bagi perusahaan yang akan IPO. Dengan perubahan aturan itu,  perusahaan lebih mudah mengurus syarat go public. “Dengan go public perusahaan akan menjadi besar dan transparan,” jelasnya.

Baca juga:  18 Mei 2019, Penurunan Harga Tiket Penerbangan Berlaku

Keuntungan lainnya, kata Agus, perusahaan akan menjadi profesional, transparan, mudah mendapatkan dana segar, selain bank, serta lebih dikenal masyarakat. Ditambah lagi secara nasional, perusahaan lokal yang tercatat di bursa cukup banyak mencapai 635 korporasi dengan rata-rata transaksi per hari sekitar Rp10 triliun. “Kalau perusahaan baru listing di bursa saham sampai saat ini ada 57 perusahaan,” paparnya.

Ia mendorong perusahaan di Bali untuk go public karena pertumbuhan investasi saham di Indonesia sangat tinggi. Bahkan pasar modal Indonesia memiliki return tertinggi di dunia dalam 10 tahun terakhir.

Diakui dari sisi jumlah investor saham di Bali peminatnya telah mencapai 18 ribu lebih. “Peminat saham ini datang dari kalangan milenial, ada dari mahasiswa maupun pebisnis usia muda. Tingginya minat mahasiswa berinvestasi di saham, karena efek dari telah dilakukan literasi ke kampus-kampus. Sekarang bermodal Rp 100.000 sudah bisa memiliki perusahaan melalui saham,” ucapnya. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.