Warga mempersiapkan ogoh-ogoh yang akan diarak sehari sebelum Nyepi Kasa di Desa Adat Buahan. (BP/istimewa)

GIANYAR, BALIPOST.com – Desa Adat Buahan, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar akan menyelenggarakan tradisi brata penyepian pada Rabu (3/7). Namun tradisi yang rutin digelar setelah tilem kasa ini, hanya diberlangsung selama 12 jam di desa adat setempat.

Nyepi digelar dari pagi hingga sore di desa setempat. Pun akan dilakukan penutupan arus lalu lintas.

Bendesa Adat Buahan,  I Nyoman Parwata menjelaskan nyepi setiap tilem kasa memang telah diwariskan turun-temurun. Sampai saat ini pihaknya tetap melanjutkan tradisi tersebut dan pantang tidak dilakukan. “Tradisi ini khusus dilakukan oleh Desa Adat Buahan saja selama 12 jam. Prosesinya sama seperti pelaksanaan Catur Brata Penyepian pada Sasih Kasanga. Tujuannya untuk keselamatan lingkungan beserta warganya juga,” jelasnya ditemui Selasa (2/7).

Lantaran nyepi hanya dilakukan pada desa adat tersebut, sehingga Rabu hari ini pengguna jalan akan dialihkan ke jalur alternatif lainnya dari pukul 06.00 Wita sampai pukul 18.00 Wita. Pengalihan arus selama Nyepi Kasa itu pihaknya sudah bersurat ke sejumlah perbekel tetangga hingga Kapolsek, Koramil dan Camat Payangan.

Sehingga setiap tahun pelaksanaan Nyepi Kasa itu pun berlangsung lancar. Bahkan tidak ada warganya yang pernah melanggar sesuai pengalaman tahun-tahun sebelumnya. “Kalau melanggar itu ada sanksinya, didenda dengan uang kepeng asli, jika dirupiahkan bisa sebesar Rp 6.300.000. Kalau yang bekerja itu bisa menyiasati saat nyepi besok berangkat sebelum pukul 06.00, begitu juga pulangnya harus setelah pukul 18.00,” imbuh pria yang telah menjadi bendesa selama dua tahun tersebut.

Baca juga:  Amankan Pengerupukan, Polres Jembrana Kerahkan 515 Personil

Rangkaian tradisi nyepi ini sudah dilaksanakan tiga hari sebelumnya. Dimulai dari tradisi nangkep sari, semacam persembahan berupa ajengan nasi berukuran besar dan warga magibung di Pura Dalem setempat. “Itu tiga hari sebelum nyepi kasa, sedangkan sekarang sama seperti pangrupukan,” jelasnya.

Sementara pada Selasa diadakan acara ngatus jukut dengan prosesi nampah godel (menyemblih anak sapi). Selama tradisi itu anak sapi diarak dari jaba Pura Puseh sampai Pura Dalem. “Sesampai di Pura Dalem diupacarai dan langsung disembelih, kemudian dagingnya dibagikan kepada 360 kepala keluarga yang ada,” paparnya.

Selanjutnya dilanjutkan dengan maprani di catus pata desa setempat sampai sandikala. Selama prosesi dipersembahkan caru dan tawur, setelah itu barulah berlangsung pengarakan ogoh-ogoh. Terdapat sekitar tiga ogoh-ogoh diarak keliling Desa Adat Buahan. (Manik Astajaya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.