Sejumlah anak duta Kota Denpasar menampilkan seni janger pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XL di Taman Budaya, Denpasar. (BP/dok)

Oleh Made Subrata

Pesta Kesenian Bali (PKB) salah satu ajang untuk membangun kebanggaan masyarakat Bali pada identitas kebaliannya. Salah satu kebanggaan tersebut adalah seni budaya adiluhung warisan para leluhur. Melalui PKB, identitas itu digali, dilestarikan, dan dikembangkan. Upaya itu telah dilakukan sejak 41 tahun melalui PKB. Hasilnya, berbagai kesenian, mulai yang hampir punah hingga kesenian yang sudah dikembangkan dapat kita saksikan dalam hajatan PKB.

Penguatan identitas lokal itu penting ditajamkan dalam situasi global saat ini, sehingga kita memiliki kebanggaan atas budaya sendiri. Sebab, local genius ini merupakan modal penting dalam kancah pergaulan dunia. Dengan memiliki kebanggaan pada local genius, kita akan memiliki posisi tawar manakala harus bersinggungan dengan budaya global. PKB-lah ajang strategis untuk menguatkan identitas itu dan melestarikannya sepanjang zaman.

Sebagaimana kita ketahui, tahun 2019 ini PKB sudah yang ke-41 kalinya digelar. Usia yang sangat dewasa dalam ‘’mengawal’’ seni budaya Bali. Melalui PKB dengan tema payungnya yang berbeda setiap tahunnya, para seniman didorong terus berinovasi dan berkreasi. Melalui lompatan kreativitas itu maka lahirlah garapan-garapan seni yang mencerminkan tema-tema yang ditetapkan. Tema yang ditetapkan ini diimplementasikan dalam pawai, pergelaran, pameran, workshop, sarasehan, dan lomba, selama PKB.

Seperti pada PKB ke-41 tahun 2019 yang bertema ‘’Bayu Pramana: Memuliakan Energi Angin’’, seniman didorong untuk mengimplementasikan tema itu ke dalam sejumlah kegiatan PKB. Tema tersebut kalau kita telaah berasal dari kata bayu dan pramana. Bayu artinya angin, sedangkan pramana berarti kekuatan. Jadi, bayu pramana berarti daya napas kehidupan yakni energi yang paling vital yang menghidupi. Ketika dijadikan tema PKB, Bayu Pramana menjadi sumber daya dalam penciptaan karya seni, baik dalam nada, gerak, dan bunyi.

Para seniman tentu dengan daya kreasinya, berupaya mengimplementasikan tema tersebut ke dalam karya-karyanya. Hal itu dapat kita saksikan dalam sejumlah garapan yang disajikan seniman dalam pawai PKB di depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Renon, Sabtu, 15 Juni lalu yang dilepas Presiden Jokowi. Bahkan, peserta pawai ada yang dengan gamblang menerjemahkan tema itu dalam garapan seninya, seperti tari Pindekan dan tari Layangan. Bahkan, partisipan dari ISBI Papua juga berupaya menerjemahkan tema tersebut dalam garapannya.

Tak hanya dalam pawai, tema ‘’Bayu Pramana’’ juga tergambar dalam lomba Taman Penasar di Taman Budaya Bali, Art Center. Sebut misalnya penampilan Sanggar Leklok Tabanan dalam lomba Taman Penasar yang membawakan garapan seni berjudul ‘’Pranayama lan Pancagita Ngawinang Santi Jagadhita’’. Demikian juga dalam karya inovatif tari Rare Angon ‘’Anglayang’ yang diiringi tabuh Bebarongan ‘’Ewer’’ oleh Sanggar Seni Kalingga, Banjar Teba, Kelurahan Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, tema ‘’Bayu Pramana’’ dapat kita maknai dalam karya tersebut.

Tak hanya dalam pergelaran seni, tema ‘’Bayu Pramana’’ juga diimplementasikan dalam workshop. Workshop ‘’Seni Kerawitan Berbasis Alat Tiup’’ dengan narasumber I Nyoman Astita, secara tematik sangatlah mengena. Dalam kegiatan itu dipaparkan secara gamblang tentang gamelan Bali berbasis alat tiup, bentuk dan fungsi alat tiup dalam gamelan Bali dan makna alat tiup dalam gamelan Bali.

Baca juga:  Tingkatkan Daya Saing, Polygon Kembali Berinovasi

Kata Astita, makna alat tiup dalam gamelan itu berfungsi sebagai pemanis melodi dan mengelaborasi melodi. Juga mendukung suasana melankolis dan memperkuat karakter dan suasana dramatik dalam pertunjukan teater dan dramatari. Suling salah satunya, dipandang memiliki fungsi penting dalam gamelan Bali seperti gamelan Gambuh, gamelan Arja, gamelan Joged dan gong suling.

Bahkan dalam gamelan gong suling, alat tiup ini memiliki peran strategis. Gong suling sesuai dengan namanya, terdiri atas seperangkat suling dalam berbagai ukuran yang dipadukan dengan alat ritmis lainnya seperti kendang, kajar, cengceng, kempur, kemong, dan gong.

Susunan barungnya mirip dengan gong kebyar, hanya seluruh alat melodis diganti dengan suling. Nah, untuk menghasilkan alunan nada suling yang mengumandangkan keindahan bunyi, tentu diperlukan kekuatan bayu atau energi (napas) dari dalam diri seniman. Di sinilah pentingnya ngunjar angkihan, sehingga menghasilkan suara seruling yang berkarakter. Dalam konteks ini, tema ‘’Bayu Pramana’’ menjadi sangat relevan.

Kita berharap tema ‘’Bayu Pramana’’ selalu terpancar pada garapan-garapan seni lainnya selama PKB ke-41 berlangsung. Demikian juga pada PKB ke-42 tahun 2020 mendatang, tema yang akan dicanangkan dapat secara maksimal bisa diimplementasikan oleh para seniman dalam garapan seninya. Dengan demikian, seiring dengan peningkatan usia PKB, kita berharap kualitas pelaksanaan pesta seni ini semakin berkualitas dan mampu menguatkan identitas kebalian kita.

Demikian strategisnya fungsi PKB sebagai pemantik kreativitas dan inovasi, maka sudah sepatutnya semua pihak mengawal pesta seni tahunan tersebut dengan komitmen yang tinggi. Komitmen yang tinggi ini sudah ditunjukkan Gubernur Bali Wayan Koster. Saat memberi sambutan pada pembukaan PKB ke-41, Sabtu (15/6) lalu di panggung terbuka Ardha Candra, Gubernur asal Desa Sembiran tersebut menyatakan komitmennya untuk meneruskan warisan karya budaya yang monumental yang digagas oleh mantan Gubernur Bali Prof. Dr. Ida Bagus Mantra (alm).

Kata Koster, PKB yang dilaksanakan setiap tahun selama sebulan, merupakan wahana untuk pelestarian dan pengembangan seni budaya masyarakat Bali yang sangat unik dan kaya, sebagai warisan adiluhung para leluhur.

Penyelenggaraan PKB tahun ini dilaksanakan sesuai dengan visi Pembangunan Daerah Bali 2018-2023 yaitu ‘’Nangun Sat Kerthi Loka Bali’’ melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana, menuju Bali Era Baru. Yang mengandung makna menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya, untuk mewujudkan kehidupan krama Bali yang sejahtera dan bahagia, sakala-niskala menuju kehidupan krama dan gumi Bali sesuai dengan prinsip Trisakti Bung Karno.

Tak hanya pemerintah daerah, kita berharap pihak swasta, terlebih kalangan pariwisata hendaknya semakin tergerak untuk menyukseskan pelaksanaan PKB pada masa-masa mendatang. Dengan demikian, budaya Bali semakin ajeg lestari.

Penulis, redaktur Bali Post 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.