JAKARTA, BALIPOST.com – Wirausaha telah menjadi salah satu alternatif bagi para jurnalis dalam hal menciptakan bentuk kewirausahaan untuk menambah income perekonomian keluarga. “Kewirausahaan itu konteksnya adalah jiwa, semangat dan kreativitas, artinya teman-teman merasa ingin ada sesuatu usaha daripada pekerjaan sehari-hari. Bidang usaha itu jelas unlimited (tidak ter batas), saya yakin teman-teman media punya kreativitas lain di samping punya tuntutan membuat berita dan waktu yang terbatas,” demikian diungkapkan Asisten Deputy SDM Kemenkop UKM Bidang Pengembangan Kewirausahaan, Budi Mustopo dalam Diskusi bertema “Kewirausahaan Baru Bagi Kalangan Media Massa” di Jakarta, Kamis (25/4).

Menurut Budi, wartawan yang sudah membentuk suatu badan koperasi hendaknya menjadikan koperasi sebagai laboratorium untuk berwirausaha, sehingga akan menambah kesejahteraan bagi wartawan itu sendiri. “Terkait dari perkembangan koperasi, bahwa kepengurusan koperasi sesungguhnya disitulah kesempatan menjadikan koperasi sebagai laboratorium untuk berwirausaha. Selain itu koperasi diharapkan menambah value bagi kesejahteraan anggotanya melalui bisnis yang dijalankan,” tutur Budi.

Budi menjelaskan, tujuan pemerintah adalah ingin menumbuhkembangkan kewirausahaan di Indonesia, karena dengan pertumbuhan kewirausahaan akan banyak menciptakan lapangan pekerjaan dan dapat meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat. “Kita tahu sektor UMKM adalah menjadi tulang punggung bagi ketahanan ekonomi nasional disaat krisis moneter, menyumbang 60 persen lebih PDB dan menyerap tenaga kerja 90 persen,” katanya.

Baca juga:  Buka "Mindset" Lewat Gerakan Mahasiswa Pengusaha

Pada kesempatan yang sama CEO Rubelon.com dan pakar IT, Syarif Hidayat mengatakan bahwa, berkembangnya teknologi digital yang demikian cepatnya menjadi sebuah peluang bisnis bagi banyak pihak untuk menciptakan tren bisnis-bisnis baru. “Perubahan dan perkembangan teknologi yang sangat cepat ini, selain bagi para pebisnis, para penggunapun harus bisa menyikapi perubahan tersebut dengan sangat cepat,” kata Syarif.

Syarif menambahkan, respons industri ke arah dunia digital banyak yang harus dilalui, mulai dengan munculnya para pemanfaatan internet, penyampaian informasi, usaha berbasis online, startup digital berbasis aplikasi, hingga munculnya para raksasa unicorn.

Sementara itu, Selly Hadiyanti dari Rumah Kreatif Bekasi (RKB) dalam kesempatan tersebut menguraikan konsep Atention, Interest, Desire dan Action (AIDA) harus tertanam di-mindset para pelaku usaha.

Menurut Selly, AIDA adalah konsep dasar di dalam penjualan. Konsep ini pertama kalinya ditemukan oleh seseorang berkebangsaan Amerika. (Nikson/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.