hibah
Ilustrasi. (BP/dok)

Sudah sejak lama dikotomi kawasan Bali Utara dan Bali Selatan menjadi semacam komoditas politik, kemudian menjadi prioritas pemerintah. Namun sayangnya, tidak semuanya serius menggarap hal ini sehingga gap di antara keduanya menjadi semakin sempit. Ketimpangan sektoral dan kawasan ini semakin menjauhkan kedua kawasan yang sejatinya mesti saling mendukung.

Bali Selatan yang begitu dinamis tidak diimbangi oleh kegiatan di Bali Utara yang cenderung statis. Hal ini sudah lama diyakini. Akhirnya, wacana tinggal wacana. Sementara pergerakan pembangunan di bidang infrastruktur di kawasan selatan semakin cepat. Fasilitas pariwisata dibangun di mana-mana. Badung, Denpasar, Gianyar, dan Tabanan semakin sesak.

Sejatinya suara-suara untuk menjembatani hal ini bukannya tidak terdengar. Selalu nyaring tetapi tidak cukup kuat untuk menggerakkan kebijakan serta investasi. Keterbatasan akses dipandang sebagai penghalang utama. Di samping itu, faktor kapital juga menjadi salah satu penyebab. Tetapi kalau hal ini digabung dan didorong secara tepat dan benar, maka lokomotif itu dapat digerakkan ke arah utara.

Hal ini kemudian semakin Santer manakala ada wacana pembangunan bandara di Buleleng. Kemudian bak gayung bersambut, wacana ini semakinn menggema walaupun proyek bandara mengalami pasang surut akhirnya sampai kini belum terealisasi.

Tidak masalah. Dalam tingkat kebijakn sudah ada berbagai upaya. Hal positif kemudian berlanjut ketika proyek shortcut dicanangkan dan dilakukan. Hubungan kedua kawasan ini bisa diperpendek dalam konteks waktu tempuh. Denpasar-Singaraja bisa dicapai dengan waktu relatif lebih cepat. Yang biasanya secara standar 1,5 jam sampai 2 jam nanti akan bisa lebih cepat lagi.

Baca juga:  Indonesia Bangkit, Kalau Ini Terwujud

Hal ini diharapkan mendorong industri barang serta jasa. Wisatawan yang akan ke Lovina dari Ubud tidak akan capek di jalan. Mereka akan tetap segar dan semangat ketika tiba di destinasi andalan. Juga kawasan barat serta timur Buleleng. Juga ke kawasan Karangasem serta Jembrana.

Jadi, ketimpangan pembangunan bisa diprediksi tidak akan semakin lebar dan patut diyakini investor akan kembali melirik kawasan ini dengan pertimbangan kalkulasi nilai investasi jasa lebih ditekan.

Ini dampak infrastruktur yang digeber pemerintah. Tetapi jangan lupa selalu saja ada bahaya mengintai ketika kita lengah. Kalau kemudian dihadapkan pada problema pokok Bali yang kuat masalah ini tentu harus dimengerti.

Jangan sampai kita kemudian memindahkan permasalahan yang ada di Bali selatan ke Bali Utara. Jangan alih fungsi lahan, lalu lintas yang macet, limbah dan sebagainya.Perlu perencanaan matang serta kalkulasi di segala lini. Bali sudah sarat masalah. Jangan ditambah lagi akibat kita kurang cermat dan kurang hati-hati.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.