Pasar Loka Crana. (BP/dok)

BANGLI, BALIPOST.com – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Bangli berencana menjadikan Pasar Loka Crana menjadi percontohan pasar bebas sampah plastik. Untuk mewujudkan hal itu, nantinya pedagang yang berjualan di pasar setempat akan diminta menyediakan tas kain untuk membungkus barang belanjaan konsumen.

“Kita rencanakan seperti itu. Biar ada perbedaan dengan pasar lainnya. Jadi pasar percontohan,” kata Kepala Disperindag Kabupaten Bangli Nengah Sudibya saat ditemui di kantornya belum lama ini.

Sudibya mengakui, untuk mewujudkan hal itu tidak mudah. Harus ada dukungan dari para pedagang maupun konsumen. “Minimal, yang belanja bisa membawa tas kain. Sehingga tidak pakai plastik,” ujarnya.

Untuk membatasi penggunaan plastik di Bangli, pejabat asal Penglipuran ini menjelaskan bahwa pihaknya pada akhir Januari telah bersurat ke para pedagang Pasar Rakyat, pelaku usaha toko swalayan dan pelaku usaha lainnya. Dalam surat tersebut, pihaknya mengimbau pedagang dan pelaku usaha tidak menggunakan kantong plastik sekali pakai ketika melayani konsumen/pembeli saat bertransaksi.

Para pedagang dan pelaku usaha juga diminta menyampaikan kepada konsumen/pembeli agar membawa kantong plastik berbahan ramah lingkungan atau tempat belanjaan setiap melakukan transaksi. Dalam surat itu, Disperindag juga mewajibkan petugas pasar rakyat menyosialisasikan Peraturan Gubernur Bali Nomor 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Plastik Sekali Pakai kepada para pedagang dan konsumen/pembeli di Pasar Rakyat.

Baca juga:  Mencuri di Pasar Ubud, Warga Algeria Diamankan Pedagang

Sudibya mengklaim sejak diberikan surat imbauan, sejauh ini sudah mulai ada perubahan perilaku dari pedagang maupun konsumen. Hanya saja perubahannya tidak signifikan.

Beberapa pelaku usaha toko swalayan, contoh dia, sudah ada yang menyampaikan ke konsumen tidak menyediakan plastik. Beberapa dari mereka juga mulai menyediakan kantung belanja berbahan kain. “Kalau di pasar rakyat masih belum maksimal. Karena itu, maka harus kita genjot lagi,” terangnya.

Selain menyurati pedagang pasar dan pelaku usaha swalayan, untuk mengurangi penggunaan plastik, Sudibya juga mengaku sudah mendorong perajin-perajin di Bangli untuk berinovasi membuat produk-produk rumah tangga pengganti plastik. Produk yang dimaksud seperti sedotan berbahan bambu, gelas dari bambu, dan kantung belanja berbahan kain.

Saat ini sudah ada satu orang perajin di Kelurahan Kawan yang mulai membuat sedotan berbahan bambu, hanya saja belum dalam jumlah besar. “Harapan kita perajin di Bangli menangkap peluang ini dengan berinovasi membuat produk-produk yang berbahan ramah lingkungan sehingga penggunaan plastik di masyarakat bisa terus berkurang,” imbuhnya. (Dayu Swasrina/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.