Umat Tionghoa merayakan Hari Raya Imlek dengan bersembahyang di Konco Batur, Selasa (5/2). (BP/ina)

BANGLI, BALIPOST.com – Hari Raya Imlek 2570, Selasa (5/2) dirayakan umat Tionghoa dengan mendatangi Konco Batur yang berada di areal utama mandala Pura Ulun Danu Batur, Kintamani. Di sana mereka bersembahyang untuk memohon keselamatan dan kemakmuran di tahun yang baru ini.

Berdasarkan pantauan, Konco Batur yang merupakan Konco terbesar di Kintamani mulai didatangi umat Tionghoa secara silih berganti sejak pagi hari. Tak hanya umat Tionghoa Tri Dharma dari wilayah Kintamani, umat Tionghoa yang datang untuk bersembahyang di Konco Batur juga berasal dari berbagai daerah lainnya di Bali. Dalam kegiatan persembahyangannya, beberapa umat terlihat melakukan ritual pembakaran uang kertas emas.

Ketua Konco Batur Putu Gede Yoli Pramajaya ditemui di Konco Batur mengatakan rangkaian perayaan Imlek di Konco Batur sudah dimulai sejak tanggal 24 bulan 12 tahun Tionghoa. Sesuai kepercayaan umat Tionghoa, pada saat itu para dewa naik ke khayangan. Umat diperbolehkan untuk melaksanakan ritual bersih-bersih altar, sebelum melakukan kegiatan persembahyangan saat hari raya Imlek.

“Pada hari ini tanggal 1 bulan 1 tahun Tionghoa, umat melaksanakan persembahyangan di konco. Di sini, persembahyangan dilaksanakan sendiri-sendiri, tidak sembahyang bersama. Kalau saat Sejit (ulang tahun Konco Batur pada tanggal 15 bulan 3 Tionghoa) baru diadakan persembahyangan bersama,” terangnya.

Dijelaskannya bahwa kegiatan persembahyangan di Konco Batur dilaksanakan umat di 12 altar untuk memuja para dewa. Dalam kegiatan persembahyangannya, umat mempersembahkan buah-buahan dan menggunakan 17 hio (dupa).

Baca juga:  Kedapatan Nyabu, Sopir Truk Galian C Dibekuk

Yoli mengatakan, persembahyangan di Konco Batur juga diisi ritual bakar uang kertas emas di sebuah tempat yang dinamakan kas uang. Ritual itu bermakna menabung dengan harapan mendapat kelancaran rejeki. “Yang hari ini datang untuk bersembahyang di Konco Batur bukan saja umat Tionghoa Tri Dharma yang tinggal di wilayah Kintamani saja, tapi juga ada yang dari Denpasar, Singaraja, Baturiti, Kuta, dan dari wilayah lainnya. Karena Konco Batur adalah sungsungan jagat. Menurut cerita, Ida Bhatara Konco adalah saudara tertua dari Ida Bhatara Ulun Danu Batur,” terangnya.

Lanjut dikatakannya bahwa tiga hari setelah Hari Raya Imlek, umat Tionghoa akan melaksanakan persembahyangan bersama untuk menyambut para dewa turun dari kahyangan. Perayaan Imlek akan berakhir pada tanggal 15 bulan 1 Tionghoa mendatang. Berakhirnya perayaan imlek disebut dengan hari raya Cap Gomeh. “Saat itu kembali akan dilaksanakan persembahyangan bersama untuk memohon keselamatan dan kemakmuran,” ujarnya.

Yoli menambahkan dalam perhitungan kalender Cina, tahun baru imlek kali ini merupakan tahun babi tanah. Sesuai kepercayaan umat Tionghoa, pada tahun babi tanah ini diprediksi perekonomian dan rejeki akan lebih bagus dari sebelumnya. “Cenderungnya di bidang pertanian. Mudah-mudahan tahun ini hasil pertanian lebih bagus dari sebelumnya,” harapnya. (dayu rina/balipost)

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.