Warga mengecek truk yang terjun ke sungai yang menjadi perbatasan antara Desa Lodtunduh dengan Desa Singapadu. (BP/nik)

GIANYAR, BALIPOST.com – Truk sarat muatan terjun bebas ke jurang aliran sungai Wos pada Kamis (31/1). Insiden yang terjadi di perbatasan antara desa Desa Lodtunduh Kecamatan Ubud dan Desa Singapadu Kaler, Kecamatan Sukawati lantaran truk warna kuning itu tidak kuat menanjak. Sementara sopir truk Agus Tri Pamungkas sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat, namun dipastikan tidak mengalami luka.

Diketahui truk yang dikemudikan pemuda 23 tahun asal Banyuwangi itu awalnya melaju dari arah selatan dari Desa Lodtunduh, setelah melintasi jembatan lalu hendak menanjak menuju utara Desa Singapadu. Namun dikarenakan tak kuat menanjak, mesin tiba-tiba mati.

Seketika itu, roda belakang truk bergerak mundur. Naas, di belakang truk terdapat aliran sungai Wos sedalam sekitar 18 meter. Seketika, muatan truk berjatuhan ke hingga dasar sungai. Termasuk truk dan sopirnya ikut ngatrek terjun bebas.

Menurut I Nyoman Landuh warga asal Banjar Gelogor, Lodtunduh yang ikut mengevakuasi sopir truk. Diterangkan awalnya ia mendengar suara gemuruh seperti tebing longsor. “Saya dengan sekitar jam 10, pas sedang ngayah sambil ngempu di Pura,” jelasnya.

Beberapa menit kemudian, Nyoman Landuh pun mendapat informasi bahwa suara gemuruh tersebut bersumber dari truk yang terjun ke sungai. Ia pun langsung menuju TKP. Bersama warga, Landuh pun mencari jalur untuk turun ke lokasi. “Kami harus memutar ke timur sekitar 50 meter. Lalu turun jalan lagi sekitar 100 meter. Baru bisa sampai di lokasi,” jelasnya.

Baca juga:  Di Jalur Gilimanuk-Denpasar, Dua Truk Hantam Pohon Perindang

Saat itu, sopir truk tidak bisa dievakuasi dengan mudah. Sebab, posisinya berseberangan. Sehingga Landuh berinisiatif mengikat korban Agus Tri dengan kamen dan tali. Setelah berhasil dievakuasi ke jalan, korban Agus Tri pun langsung dilarikan ke RS swasta di Desa Batubulan.

Sementara menurut, I Ketut Sumardika, jalur perbatasan antara Desa Lodtunduh dan Desa Singapadu itu sejatinya hanya bisa dilalui sepeda motor. Bahkan mobil sekelas Pick Up yang jika mengangkut muatan berat, dilarang masuk oleh warga. ” Hanya saja memang tanda larangan masuk tidak permanen, sehingga kerap nyelonong kendaraan roda 4 bermuatan berat, “ katanya.

Dikatakan, jembatan ini awalnya hanya berupa titi bambu. Kemudian tahun 2006 mulai dibeton dan tahun 2008 baru dipermanen dan dipagari besi. Selama 11 tahun hingga kini jembatan tersebur tidak pernah diperbaiki. Selain itu pihaknya lebih khawatir bila jembatan di lokasi itu yang roboh, karena kondisinya labil. ” Jalur tersebut, menjadi alternatif jalan pintas yang dilalui ratusan sepeda motor setiap hari, ” ungkapnya. (Manik Astajaya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.