Produk kopi Bumdes Pajahan. (BP/san))

TABANAN, BALIPOST.com – Bumdes dibentuk untuk menyerap produk pertanian di desanya. Tugas ini sudah dijalankan Bumdes Pajahan, Desa Pajahan, Pupuan. Sepanjang tahun 2018, Bumdes Tugu Pajahan telah mampu menyerap setidaknya 39 ton kopi petani dan dibeli di atas harga pasar.

Ketua Bumdes Tugu Pajahan, Made Marsudi Cahyadi, Senin (21/1) mengatakan jumlah 39 ton memang masih belum mengcover semua produk kopi di desa Pajahan. “Memang belum bisa semua produk kopi petani kami serap. Tahun 2018 baru diserap sebanyak 39 ton,” ujarnya. Serapan kopi sebanyak 39 ton ini kata Marsudi tidak langsung diolah menjadi kopi bubuk. Tetapi dilakukan secara bertahap. Rata-rata pihaknya mengolah 800 kilo kopi biji kering dalam sebulan yang menjadi 600 kilo kopi bubuk.

Diakui Marsudi, pihaknya belum bisa menambah outlet penjualan dan hanya memasukkan kopi Tugu Pajahan ke outlet-outlet seperti minimarket serta toko klontong yang sudah bekerjasama dengan Bumdes Pajahan selama ini. Padahal kalau dilihat dari sisi penjualan, dalam setahun ini kopi yang dikembalikan karena masa kadaluwarsanya habis hanya 100 kilogram sepanjang tahun 2018. Sementara produk kopi yang dihasilkan adalah 600 kilogram per bulan. Jadi bisa dilihat penyerapan kopi Tugu Pajahan cukup besar di masyarakat. “Tidak bisa menambah outlet karena sistem penjualannya adalah konsinyasi. Sehingga perputaran modalnya sedikit lambat,” ujarnya.

Baca juga:  PT Sinarmonas Industries Buka Cabang di Bali

Untuk bisa bersaing dengan produk kopi robusta lainnya, lanjut Marsudi selain produk kopi original, dalam setahun terakhir ini Bumdes Pajahan telah mengembangkan kopi honey. Kelebihan kopi honey ini adalah saat diseduh mengeluarkan aroma madu. Cara mengolah kopi ini memang agak berbeda. Jadi sebelum dikeringkan, kopi di fermentasi dulu selama sehari sehingga keluar lendir-lendir manis biji kopi. “Setelah di fermentasi semalam baru kopi dikeringkan,” ujar Marsudi.

Mengenai harga kopi yang dibeli ke petani oleh Bumdes Pajahan tahun 2018 lalu kata Marsudi menurun dibandingkan tahun 2017 namun tetap di atas harga pasar. Katanya jika tahun 2017 Bumdes membeli kopi seharga Rp 27.000 per kilo ke petani maka tahun 2018 harga belinya Rp 23.000 per kilo. “Tetapi tetap di atas harga pasar. Kalo di pasaran harga beli ke petani Rp 22.500 per kilogram,” ujarnya. Untuk harga beli di tahun 2019 lanjut Marsudi belum dilakukan Bumdes Pajahan karena sedang menunggu panen raya yang akan jatuh pada bulan Juni mendatang. (wira sanjiwani/balipost)

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.