Tanaman kopi milik petani di Bangli memasuki awal musim panen. (BP/Dokumen)

BANGLI, BALIPOST.com – Petani kopi di Kintamani mulai memasuki musim panen. Di awal musim panen tahun ini, harga kopi di tingkat petani mengalami kenaikan yang lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

Harga per kilogram kopi mencapai Rp 15 ribu.  Seperti yang diungkapkan petani kopi di Desa Ulian Made Surawan. Dikatakan pada awal musim panen saat ini harga kopi tergolong tinggi.

“Sekarang sudah naik lagi seribu jadi Rp 16 ribu per kilonya,” ungkapnya, Jumat (7/4).

Baca juga:  CCAI Rambah Bisnis Kopi

Dibandingkan awal musim panen tahun lalu, harga kopi saat ini mengalami kenaikan. Dikatakan Surawan, saat awal musim panen tahun sebelumnya, harga kopi hanya Rp 5 ribu per kilogram. “Sekarang naik tiga kali lipat,” ujarnya.

Diperkirakan harga kopi akan terus mengalami kenaikan hingga puncak panen. Puncak panen kopi biasanya berlangsung pada bulan Mei-Juni.

Surawan memprediksi harga kopi saat puncak panen nanti tembus Rp 20 ribu. “Kalau puncak panen tahun lalu, harganya hanya Rp 16 ribu per kilo,” sebutnya.

Baca juga:  2020, Unesco akan Revalidasi Geopark Batur

Menurut Surawan, kenaikan harga kopi saat ini dipengaruhi produksi yang mengalami penurunan akibat pengaruh cuaca. Dia menyebut penurunan produksi terjadi hingga 60 persen.

Jelasnya, curah hujan tinggi yang terjadi sekitar bulan Oktober-November tahun lalu menyebabkan pertumbuhan bunga pada tanaman kopi menjadi tidak maksimal. Bunga kopi jadi banyak gugur.

Imbasnya pertumbuhan buah tidak sesuai harapan. “Sudah dua tahun curah hujan tinggi sekali sehingga produksi kopi di pohon jadi tidak maksimal. Hal itu mnyebabkan harga kopi dua tahun terakhir tinggi,” imbuhnya. (Dayu Swasrina/balipost)

Baca juga:  Bertahun-tahun, Boat Bantuan Pusat Dibiarkan Tenggelam di Dermaga Kedisan
BAGIKAN