Petani saat melakukan panen padi di lahan persawahan. Panen raya menyumbangkan pertumbuhan ekonomi dalam triwulan II 2018. (BP/dok)

TABANAN, BALIPOST.com – Musim hujan yang berlangsung saat ini menyebabkan serapan gabah petani oleh kalangan Persatuan Penggusaha Penggilingan Padi Beras (Perpadi) di Kabupaten Tabanan tidak maksimal atau mengalami penurunan. Tetapi meski kurang maksimal, dipastikan stok beras di pasaran tidak terganggu dan harga jualnya tetap stabil.

Ketua Perpadi Tabanan, I Ketut Sukarta, Kamis (13/12) mengungkapkan serapan gabah di luar program Gerbang Pangan Serasi tidak maksimal sejak November lalu. Hal ini dikarenakan faktor musim hujan yang membuat pengusaha penggilingan padi harus berhitung dengan kondisi minimnya luas lantai jemur yang dimiliki dan tidak adanya mesin dryer (pengering gabah). “Hampir sebagian besar pengusaha penggilingan padi di Tabanan tidak punya dryer. Ini yang selalu menjadi masalah saat musim hujan,” ujarnya.

Dari 70 anggota Perpadi hanya 15 yang memiliki mesin dryer. Ia melanjutkan saat musim hujan, petani saja sulit dalam memanen padinya apa lagi Perpadi yang harus menjemur gabah sebelum lanjut ke peroses penggilingan. “Akhirnya dengan kondisi tersebut, kami terpaksa mengurangi serapan gabah,” tuturnya.

Jelas Sukarta, di luar musim hujan, biasanya proses penjemuran gabah hingga kering memakan waktu 1-2 hari. Namun saat musim hujan proses jemur sampai kering memakan waktu hingga satu minggu.

Itupun bisa belum kering maksimal. Mengenai penurunan serapan gabah selama musin hujan mencapai 25 persen dari rata-rata serapan yang biasanya mencapai 10 ton per hari. “Kemungkinan penurunan serapan ini akan berlangsung selama musim hujan ini. Meski begitu, penurunan serapan ini tidak berdampak pada suplai beras dipasaran. Itu pula dibuktikan dengan harga beras yang masih stabil, karena stok beras dimasing-masing usaha penggilingan maupun pedagang masih mencukupi,” ujarnya.

Baca juga:  Tabanan Kembali Ekspor Kopi

Sambungnya, selain mengurangi serapan, selama musim hujan ini kualitas panen petani di Kabupaten Tabanan juga agak berkurang. Salah satunya terlihat dari kadar air yang dikandung oleh gabah hasil panen petani.

Level airnya berada di angka 25-30 persen. Kandungan kadar air ini berdampak pada mutu, kualitas dan kuantitas gabah petani menjadi tidak sebagus biasanya. “Dari hitungan, randemen yang biasanya bisa mencapai 55 persen, sekarang paling banyak hanya mencapai 50 persen,” ujar Sukarta.

Kondisi tersebut membuat harga gabah ditingkat petani mengalami penurunan, dimana harga gabah yang sebelumnya berada dikisaran Rp 5.200 per kg, sekarang ini harganya turun dengan berada dikisaran Rp 4.900 per kg-Rp 5.000 per kg. “Meski harga turun, patokan tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga pembelian pemerintah (HPP) yang dibandrol Rp 3.700 per kg di tingkat petani,” ujarnya. (Wira Sanjiwani/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.