Pemimpin BNI Kanwil Bali, NTB dan NTT Eko Setyo Nugroho menyerahkan penghargaan pada narasumber Trade Talk Show 2017. (BP/adv)

DENPASAR, BALIPOST.com – PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menggelar acara Bali International Trade Talk Show tahun 2018 pada Senin (10/12) di Ballroom Maya Sanur Resort & Spa. Acara ini bertujuan sebagai persiapan menyongsong peluang dan tantangan ekonomi di tahun 2019 serta mendukung program pemerintah dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui peningkatan Devisa Hasil Ekspor (DHE).

Pada acara talkshow itu disampaikan pula kondisi ekonomi di tahun 2019 kepada lebih dari 100 undangan yang berasal dari kalangan dunia usaha. Dalam kesempatan tersebut BNI memperkenalkan website Bali Trade Galeri www.balitradegallery.com yang bertujuan untuk menjembatani eksportir di Indonesia dan importir di luar negeri.

Pemimpin BNI Kantor Wilayah Bali NTB & NTT Eko Setyo Nugroho mengungkapkan, BNI akan mendukung pemerintah dalam meningkatkan cadangan devisa dengan memberikan fasilitas trade finance yang mudah dan cepat untuk mendorong sektor ekspor. “Ke depan BNI akan meningkatkan upaya pelatihan, pendampingan dan pengembangan produk dan pricing strategi tidak hanya untuk nasabah corporate namun juga untuk UMKM yang memiliki potensi ekspor,” ungkap Eko.

BNI Trade Center dalam peningkatan bisnis UMKM dengan tujuan meningkatkan wawasan dan inisiatif usaha berorientasi ekspor bagi UMKM. Adapun programnya yaitu pengenalan produk dan layanan perbankan, Bisnis Matching, Pelatihan Pengenalan Ekspor, Informasi mengenai Pasar International dan Edukasi Pengelolaan Keuangan dan Digitalisasi dalam transaksi trade.

Produk unggulan yang selama ini menjadi andalan adalah transaksi fisik dan non fisik yaitu transaksi jual/beli valas dengan berbagai jenis mata uang asing. Selain itu, saat ini BNI memiliki produk investasi baru yang menawarkan imbal hasil yg lebih menarik dibanding tabungan USD dan telah disahkan oleh OJK yaitu Produk Depo Swap.

Baca juga:  BNI Raih Laba Rp 3,2 Triliun

Setiap produk yang disiapkan BNI untuk melayani nasabah pada transaksi-transaksi internasional di topang oleh dukungan jaringan kantor cabang yang terbesar dimiliki oleh bank nasional asal Indonesia. Saat ini, BNI memiliki kantor di Singapura, Hong Kong, Tokyo – Jepang, Osaka – Jepang, Seoul – Korea Selatan, New York – Amerika Serikat, London – Inggris dan Yangon – Myanmar.

Kepala Tim Advisory Ekonomi dan Keuangan Asisten Direktur Bank Indonesia Kpw Bali Dadi Esa Cipta mengatakan, ada beberapa negara yang berpotensi untuk Indonesia khususnya Bali melakukan ekspor, diantaranya Jepang, Tiongkok, Amerika Serikat, Singapura, dan Korea Selatan.

Dengan kondisi neraca perdagangan Indonesia yang defisit USD 5,51 miliar, maka sangat tepat untuk menggenjot ekspor. Sementara kondisi ekspor Indonesia saat ini mengalami penurunan, namun kredit ekspor meningkat. Sedangkan Bali ekspor meningkat namun kredit ekspor menurun. Hal ini diduga karena, eksportir melakukan ekspor dengan biayanya sendiri.

Indonesia Japan Business Network (IJB Net) Suyoto Rais mengatakan, ada beberapa produk yang bisa menjadi peluang ekspor untuk Indonesia. Diantaranya, agro industri, tekstil, kayu, bunga krisan, ikan.

Kata Suyoto, Jepang merupakan negara pengimpor makanan terbesar. Swasembada pangan Jepang juga terendah diantara negara – negara maju. Sehingga potensi inilah yang harus digarap oleh Indonesia. Namun tidak semua makanan bisa diterima. Ada beberapa bahan makanan yang dibutuhkan Jepang diantaranya, produk perikanan seperti tuna, cumi – cumi, cakalang, dan ikan sidat. (adv/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.