Menhub Budi Karya Sumadi (tengah) usai membuka Rakernis Ditjen Hubud di Jakarta, Kamis (6/12). (BP/istimewa)

JAKARTA, BALIPOST.com – Kementerian Perhubungan memperkirakan, jumlah penumpang angkutan udara pada libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) diprediksi mencapai 6,5 juta orang atau meningkat sekitar 8,76 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berjumlah 6,01 juta penumpang. Hal tersebut disampaikan Menhub Budi Karya Sumadi usai membuka Rakernis Ditjen Hubud di Jakarta, Kamis (6/12).

Rakernis yang dibuka Menteri Perhubungan Budi Karya, Sumadi diisi dengan penandatanganan Safety Commitment, bersama para operator penerbangan, agar dapat meningkatkan keselamatan, keamanan dan pelayanan.

Dihadiri oleh 70 operator penerbangan di Indonesia, terdiri dari maskapai penerbangan, Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara, operator navigasi penerbangan, operator bandara dan maintenance. Adapun perwakilan operator yang melakukan penandatanganan safety commitment adalah Garuda Indonesia, Lion Air, AP 1 dan AP 2, Airfast, SAS, Airnav Indonesia, Batam Aero Teknik, GMF, JAS, UPBU Sebtani dan UPBU Tarakan.

Menhub menyambut baik adanya penandatanganan Safety Commitment. “Transportasi sebagai bagian yang sudah sangat terinternalisasi dalam kehidupan sosial masyarakat kita dan telah menjadi bagian dari rutinitas kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu, keselamatan transportasi penerbangan juga menjadi isu penting dan menjadi perhatian kita bersama, baik dalam kehidupan sebagai sebuah bangsa maupun dalam skala global,” kata Menhub.

Baca juga:  Digitalisasi Airport, Ini yang Dilakukan AP II

Kaitannya dengan operasional penerbangan selama masa angkutan udara Natal dan Tahun Baru 2019, Menhub mengimbau maskapai penerbangan untuk tetap mengutamakan keselamatan. Selain itu, Menhub juga meminta airlines untuk tidak mematok tarif tiket pesawat hingga mendekati batas atas.

Sebelumnya, Dirjen Perhubungan Udara Polana B Pramesti berupaya untuk memberikan pelayanan terbaik, terutama dalam hal keselamatan dan keamanan penerbangan. “Yang terpenting adalah keselamatan, tidak ada toleransi dalam keselamatan, ini no go item, harus dipenuhi bila ingin berangkat,” tegas Polana.

Melalui penandatanganan Safety Commitment, Polana berharap dapat meningkatkan kerja sama antara regulator dan industri penerbangan untuk meningkatkan safety, dan tidak mengesampingkan safety. “Meningkatkan safety adalah cara untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap dunia penerbangan nasional,” ungkap Polana.

Menurut Polana, keselamatan dan keamanan merupakan salah satu hal yang paling penting dalam industri penerbangan. “Kuncinya di sini adalah untuk mewujudkan kelaikan udara yang berkelanjutan,” tambahnya.

Kedepannya Direktorat Jenderal Perhubungan Udara akan melaksanakan Campaign Safety secara Below The Line atau tatap muka langsung kepada masyarakat selaku pengguna moda transportasi udara. (Nikson/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.