Proses pembuatan gula semut. (BP/nan)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Desa Amerta Bhuana, Selat, Karangasem membuat trobosan baru. Mereka memproduksi gula semut dengan bahan baku tuak aren hasil produksi warganya. Gula semut ini menggunakan bahan baku tuak manis dan juga gula merah. Bahan baku berupa tuak sendiri diambil di warga setempat.

Langkah ini juga untuk mengurangi produksi tuak wayah atau tuak yang mengandung alkohol karena kerap digunakan minum minum. Dengan diproduksi menjadi gula semut, maka akan mengurangi tuak wayah untuk minum minum.

Ketua Kelompok Gula Semut Ambu, Komang Arnawa, mengungkapkan, gula semut tersebut merupakan gula merah yang di kristalkan dengan di open dan di keringkan. Dimana untuk gula semut ambu ini dipergunakan adalah tuak arena tau jaka.

Sementara bisa juga menggunakan tuak Kelapa dan Tuak ental. Sementara untuk tuak Kelapa dan Tuak Aren diakui cukup bagus untuk gula semut.  Untuk mengasilkan gula dengan kwalitas bagus tergantung juga lau atau ramuan yang digunakan pada tuak. Biasanya dengan campuran Las Nangka maka warga tuak akan bagus dan gulanya juga bagus.

“Gula ini sangat bagus untuk diabet dan juga mencegah diabet. Untuk diabet boleh karena ini pemanis alami bukan buatan,”ujar

Arnawa menambakan, salah satu kendalanya adalah soal kandungan air.

Nmaun hanya saja sekarang sudah ada solusi dengan mesin open bantuan pemerintah. Mesin ini mempu membuat kandungan air menjado nol persen. Dengan kandungan air seperti ini maka gule semut akan semakin awet dan bisa tahan sampai satu tahun. “Kalau banyak air cepat lengkat,” ujarnya.

Baca juga:  Pekak Kedol 17 Tahun Melawan Diabetes

Karena itu kadar air harus sesuai standar. Sementara untuk warga memang beda antara satu dengan yang lainya tergantung bahan baku atau jenis tuak yang dipergunakan. “Ada yang coklat ada yang coklat muda tergantung tuaknya,” ujarnya.

Industri ini dalam satu hari dibatasi dengan 25 kg produksi. Sementara untuk 40 liter tuak bisa mengasilkan 15 kg gula semut. Untuk harga per kolinya diakui memang mahal. Ini karena bahan bakunya yakni tuak juga mahal. “Per kilo kita jual Rp 150 ribu,” ujarnya.

Sementara untuk membuat gula semut dari tuak butuh waktu 4 jam. Tuak di rebus dengan kompor sampai jadi gula, kemudian di kristalkan. Kemudian gula yang sudah di kristalkan di open agar kandungan airnya betul betul habis. Untuk pemasaran sendiri memang belum dilakukan. Namun demikian pihaknya mengaku sudah beberapa kali ikut pemeran. “Kalau penjualan baru lokalan saja,” tambahnya.

Kata dia, sebelumnya masyarakat juga sempat dilakukan pelatihan. Mereka ini juga dilatih membuat gula merah dan gula semut. Gula merah yang dibentuk juga nantinya akan diambil kelompok ini dan dikristalkan jadi gula semut. Sementara untuk bahan baku sepeti tuak diakui sangat melimpah. (eka prananda/balipost)

 

 

 

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.