Spanduk ucapan selamat datang dalam beberapa bahasa bagi delegasi, peserta dan awak media yang hadir dalam Pertemuan Tahunan IMF-World Bank Group 2018 dipasang berjajar di salah satu sudut kawasan Nusa Dua, Bali, Senin (8/10). (BP/ant)

DENPASAR, BALIPOST.com – Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga pada bulan Oktober 2018, terjadi deflasi 0,09 persen (mtm). Di Kota Denpasar tercatat mengalami deflasi sebesar 0,10 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 130,05.

Dari tujuh kelompok pengeluaran yang ada, tercatat bahwa kelompok bahan makanan memberikan andil terbesar terjadinya deflasi yaitu sebesar 0,1733 persen. Lebih mengerucut lagi dijelaskan bahwa komoditas dengan sumbangan deflasi terbesar adalah daging ayam ras sebesar 0,1335 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Bali Adi Nugroho mengatakan, deflasi pada Oktober 2018 disumbangkan oleh kelompok bahan makanan sebesar 0,87 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,14 persen serta kelompok kesehatan sebesar 0,93 persen.

Sedangkan kelompok yang mengalami inflasi yaitu kelompok sandang sebesar 0,73 persen, kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,52 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,14 persen serta kelompok pendidikan , rekreasi dan olahraga sebesar 0,06 persen.

Deflasi ini terjadi diduga karena penurunan daya beli. Namun Adi belum bisa memastikan penyebab deflasi apakah karena penurunan daya beli atau memang terjadi penurunan harga. “Perlu penelitian lebih lanjut. Tapi dengan menggunakan gambaran inflasi pada kelompok–kelompok yang lain seperti kelompok inti dan sebagainya mengisyaratkan bahwa daya beli agaknya tidak sedang dalam masalah,” tandansya.

Sehingga adanya deflasi pada komoditas tertentu seperti daging ayam dan bahkan beras di Denpasar itu semata – mata tarikan antara demand dan supply. Supply nya mencukupi sehingga harganya turun.

Baca juga:  Ini Tambahan Satu Pola di PPDB 2017

Deputi Direktur Bank Indonesia KPw Provinsi Bali Azka Subhan menyampaikan keheranannya terhadap indeks harga konsumen Bali. Karena teorinya, dengan banyaknya partisipan IMF WB yang datang sekitar 40.000, menyebabkan demand meningkat sehingga harga-harga bisa naik.

Namun nyatanya pada Oktober 2018, terjadi kebalikannya yaitu deflasi. Azka memprediksi akan terjadi inflasi tapi tidak terlalu tinggi, namun justru deflasi.

Sebelumnya pada saat rapat, TPID mengkhawatirkan adanya inflasi saat Lebaran, IMF WB, Nataru plus Galungan. “Itu titik-titik rawan inflasi kita. Astungkara, Oktober deflasi. Padahal Oktober itu IMF-WB, banyak yang datang ke Bali, tapi ini deflasi,” ungkapnya Jumat (2/11).

Namun setelah ditelusuri, kenaikan harga tidak terjadi karena partisipan telah memesan hotel sekitar 2 hingga 1 tahun yang lalu. Sehingga tidak mengganggu harga kamar hotel di Oktober 2018.

Dari sisi penerbangan yang dikhawatirkan puluhan ribu orang masuk Bali pada bulan yang sama, akan menyebabkan harga tiket naik. Namun ternyata, partisipan telah memesan tiket setahun atau 6 bulan sebelumnya.

Dari sisi makanan yang banyak disediakan hotel juga sudah dipersiapkan jauh hari sebelumnya. Sehingga harga bahan makanan juga terkendali. “Hotel mungkin sudah menyiapkan roti, beras, maupun kebutuhan baik kebutuhan delegasi nasional, maupun delegasi internasional sudah disiapkan jauh hari. Jadi prepare jauh hari sebelumnya,” tandasnya. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.