Sejumlah wisatawan mancanegara sedang berjalan-jalan di Kuta. (BP/dok)

Bicara soal kualitas dan kuantitas wisatawan yang diinginkan Bali, jawabnya jelas keduanya. Jumlah wisman ke Bali terus meningkat, juga kualitasnya pro dengan pertumbuhan ekonomi Bali. Jangan sekadar mengejar target kunjungan wisman dua juta per tahun, namun tidak membawa dampak positif peningkatan ekonomi masyarakat Bali.

Buktinya dengan program bebas visa ke Bali, membuat sektor pariwisata Bali  tergoncang. Padahal secara teori, jumlah wisman ke  suatu destinasi berupa daerah, resort, kawasan, atau objek meningkat jika daerah ini mampu mengembangkan diri dan menjalankan Sapta Pesona terdiri dari aman, tertib, bersih, sejuk, indah, dan ramah.

Faktor eskternal sangat memengaruhi pariwisata Bali. Buktinya kemarin, ada keluhan pariwisata Bali dijual sangat murah oleh agen di Tiongkok. Modusnya mereka mengajak wisman Tiongkok hanya belanja di toko milik warganya, hanya melintasi objek wisata. Jadi, tak sampai mereka masuk ke kawasan objek wisata. Itu artinya mematikan krama Bali. Bagaimana pedagang Bali bisa laku dagangannya. Padahal, semuanya bermuara untuk mempertahankan budaya Bali. Praktis semua uang akan lari keluar Bali. Pemotongan peran krama Bali di tengah jalan ini membunuh krama Bali yang notabena adalah pelaku pariwisata Bali.

Semua tindakan ini harus segera dicegah agar krama Bali tak terus menjadi korban uluk-uluk nak len (dibohongi orang lain, red). Coba bayangkan tanpa budaya, pariwisata Bali tak ada apa-apanya. Bayangkan juga apakah pemerintah dan pelaku pariwisata pernah memberdayakan pelaku budaya Bali? Jawabnya pasti tidak. Orang Bali selama ini masih mandiri dalam bidang budaya, yang justru  dipakai barang dagangan oleh agen pariwisata.

Untungnya, krama Bali tak pernah sampai berutang untuk mayadnya. Tuhan sudah  adil, ada saja rezeki termasuk tritisan sektor pariwisata. Terus terang, krama Bali hanya mendapatkan tritisan (bagian kecil) dari pariwisata Bali. Jika yang kecil ini lagi ditutup dengan program pariwisata murah, habislah nasib krama Bali. Mati pulalah  pedagang canang, pedagang banten dan lain-lainnya. Jadi, jangan kita berpikir sempit, asal kita tak dirugikan selesai urusannya.

Baca juga:  Banyak Wisatawan Group Tunda Kunjungan ke Denpasar

Secara teori, kita mengenal empat tahap perkembangan pariwisata. Tahap pertama merupakan awal dari perkembangan, ditandai dengan jumlah wisatawan, tetapi kurang signifikan. Pada tahap kedua, jumlah wisatawan meningkat tajam. Tahap ketiga, perkembangan jumlah wisatawan mulai melambat atau boleh dikatakan berhenti pada tahap ketiga.

Pertumbuhan yang melambat ini bisa disebabkan karena terjadinya kerusakan sumber daya alam dan lingkungan hidup. Terjadinya pertumbuhan jumlah wisatawan yang menurun bisa juga disebabkan karena mulai terjadi kejenuhan pasar wisata sebagai akibat ketidakpuasan wisatawan terhadap pelayanan dan kualitas daya tarik wisata.

Tahap keempat, mulai terjadinya kerusakan pada daya tarik wisata. Kondisi seperti ini disebut daya dukung lingkungan pariwisata telah terlampaui. Pada saat demikian ini, upaya pembinaan pariwisata sangat diperlukan. Makanya hakikat kualitas daya tarik wisata dipengaruhi oleh daya dukungnya.

Daya dukung pariwisata ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah jumlah wisatawan, aktivitas wisatawan, intensitas, pengaruh wisatawan, kualitas dan daya pulih secara alami serta tingkat pengelolaan. Pengembangan berdasarkan potensi dasar, kemungkinan tidak dapat menghasilkan jumlah kunjungan wisatawan yang banyak dan meningkat tajam.

Tetapi wisatawan berkunjung jumlahnya relatif sedikit dengan segmen yang kecil. Perjalanan yang demikian menimbulkan belanja harian wisatawan (tourist expenditure) yang rendah namun mempunyai manfaat meningkatkan peluang kerja dan peningkatan penyebaran pembangunan yang lebih luas dan merata. Ini yang kita perlukan untuk Bali. Ada wisatawan dan mereka berbelanja.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.