
DENPASAR, BALIPOST.com – Pariwisata Bali pada 2026 diarahkan untuk semakin berkualitas dan berkelanjutan melalui penataan zonasi, pengelolaan destinasi yang profesional, investasi berkelanjutan, serta penegakan aturan yang tegas. Transformasi ini menjadi langkah strategis Bali untuk beralih dari pariwisata massal menuju pariwisata berkualitas berbasis budaya dan kelestarian.
Pemerhati pariwisata Trisno Nugroho di Denpasar menegaskan bahwa penataan destinasi menjadi kunci utama agar sebaran wisatawan lebih merata dan tidak terpusat pada kawasan yang sudah jenuh.
“Bali harus profesional dan beralih dari pariwisata massal ke pariwisata berkualitas dengan mengedepankan kenyamanan, kelestarian, dan pengalaman otentik. Yang terpenting, Bali tidak boleh kehilangan rohnya sebagai destinasi wisata budaya,” ujarnya.
Menurut Trisno, arah kebijakan pariwisata Bali 2026 difokuskan pada peningkatan kualitas, bukan sekadar kuantitas kunjungan. Hal ini diwujudkan melalui penataan zonasi, pengelolaan destinasi, serta perbaikan tata kelola agar pariwisata Bali semakin berkelanjutan dan kompetitif secara global.
Sementara itu, Ketua Bali Villa Association (BVA) Putu Gede Hendrawan mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025 sektor villa di Bali menghadapi tantangan, terutama pada periode menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).
“Dari sisi okupansi, menjelang Nataru 2025 tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya. Terjadi penurunan rata-rata hingga sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” jelasnya.
Penurunan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari dinamika sosial dan politik nasional, bencana alam di sejumlah wilayah Indonesia, hingga kondisi cuaca ekstrem dan musim hujan yang berdampak langsung pada kawasan villa, termasuk banjir di beberapa daerah.
Selain itu, persaingan dengan destinasi wisata regional seperti Thailand dan Vietnam juga menjadi tantangan tersendiri, mengingat stabilitas sosial dan politik di negara-negara tersebut relatif lebih kondusif dan turut memengaruhi preferensi wisatawan.
Meski demikian, Putu Gede menilai kondisi 2025 sebagai fase normalisasi setelah lonjakan luar biasa pasca pandemi pada 2024. “Tahun 2024 itu lonjakannya sangat besar karena efek pasca pandemi. Sekarang pasar sedang menyesuaikan. Ini bukan kemunduran, tapi proses menuju pariwisata yang lebih sehat dan berimbang,” tegasnya.
Ia optimistis, dengan membaiknya situasi nasional serta penguatan tata kelola pariwisata berbasis kualitas, sektor villa Bali akan kembali tumbuh pada 2026. “Dengan pembenahan regulasi, peningkatan kualitas layanan, serta adaptasi terhadap perubahan iklim, kami yakin pariwisata Bali, termasuk sektor villa, akan kembali bangkit dan lebih kuat,” ujarnya.
Dengan strategi yang menitikberatkan pada kualitas, keberlanjutan, dan nilai budaya, pariwisata Bali 2026 diyakini akan menjadi tonggak kebangkitan baru yang lebih tangguh, inklusif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal. (Suardika/bisnisbali)










