Umat Hindu sedang melaksanakan ritual Tumpek Landep. (BP/wan)

Tumpek Landep merupakan salah satu ritual bagi umat Hindu yang dikaitkan dengan odalan senjata. Ini persepsi umum. Namun, secara filosofi, perayaan Tumpek Landep bagi umat Hindu hendaknya dimaknai sebagai bentuk dan upaya untuk menjaga kesadaran dan ketajaman pikiran. Orang yang membidangi masalah keagamaan sering juga mengaitkan upacara ini sebagai bentuk kecerdasan mengelola kesadaran dan pengendalian diri.

Mencermati ulasan Prabu Darmayasa terkait hal ini, bahwa umat Hindu di Bali meyakini bahwa pertemuan Saptawara dan Pañcawara menciptakan kesucian dan energi spiritual khusus. Terutama pertemuan akhir Saptawara dan Pañcawara memunculkan kekuatan spiritual sangat khusus yang membantu turunnya taksu. Inilah kepercayaan umat Hindu di Bali yang barangkali tidak dimiliki oleh umat Hindu lain di dunia.

Kekuatan taksu yang diturunkan pada hari tumpek dapat membantu menumbuhkembangkan segala sifat mulia di dalam diri. Jika Tumpek Atag (disebut juga Tumpek Uduh, Tumpek Wariga, Tumpek Tetanduran, Tumpek Pengarah, Pengatag) merupakan hari suci untuk pelestarian lingkungan dalam kesadaran keagamaan, Tumpek Kandang merupakan hari suci untuk penghormatan pada binatang, Tumpek Krulut mampu menimbulkan rasa lulut (cinta kasih) yang lango (membahagiakan mendalam), maka Tumpek Landep dapat membantu memperoleh ketajaman serta kejernihan kecerdasan spiritual. Kecerdasan pikiran inilah yang senantiasa dicari oleh para Resi, Muni, Tapasvi melalui berbagai jenis pertapaan dan praktik spiritual lainnya. Sebab, tanpa kecerdasan pikiran segala keberhasilan spiritual tidak akan pernah dapat diraih.

Kata tumpek berarti turun. Berasal dari kata tampa, mendapat sisipan um, menjadi tumampa, kemudian menjadi tumampek dan akhirnya menjadi tumpek. Ia merupakan hari suci yang penuh kekuatan niskala dalam bentuk padusati dan diperingati oleh umat Hindu untuk mengisi, memperkuat dan mempertajam kekuatan Pasupati pada keris, tombak, pedang dan benda-benda tajam lainnya yang disucikan, dan mempertajam kecerdasan spiritual.

Baca juga:  Hari Ini, Puncak Karya Pura Dalem Puri Besakih

Pemahaman lain dari tumpek juga menunjukkan metu (bertemu) dan mpek (akhir) menunjukkan pertemuan antara akhir dari Pañcawara (yaitu Kliwon) dan akhir dari Saptawara (yaitu Saniscara). Pada hari suci Tumpek Landep, orang-orang mengupacarai senjata pedang, keris, dan tombak yang disucikan (belakangan juga termasuk berbagai alat terbuat dari besi, bahkan motor dan mobil). Persembahan sederhana ditujukan kepada Sang Hyang Pasupati dilakukan dengan persembahan minyak wangi dan bunga serbaharum.

Secara sekala orang mengupacarai benda-benda terbuat dari besi yang disakralkan, disucikan, dan di-linggih-kan di tempat-tempat suci, tetapi juga umat hendaknya berusaha memperingatinya secara widhi sastra. Turunnya kekuatan Pasupati Sakti pada hari Tumpek Landep ini sudah sepatutnya dirayakan melalui pemahaman akan turunnya kekuatan suci.

Pasupati demi mempertajam keserdasan dan budi pekerti umat manusia. Pada hari Tumpek Landep, umat memanfaatkan kesempatan untuk membaca kitab-kitab suci Veda demi mempertajam kecerdasan spiritualnya. Untuk itu, hari Tumpek Landep inilah merupakan hari penuh kekuatan taksu demi mengasah dan mempertajam kecerdasan spiritualnya.

Dalam konteks kekinian, maka memakna Tumpek Landep tentu harus tetap bercermin pada ajaran sastra dan membangun kecerdasan diri. Mengasah ketajaman pikiran dalam konteks ini mesti diarahkan menjadikan diri lebih profesional, memiliki daya saing dan siap menghadapi tantangan.

Tumpek Landep hendaknya juga jangan berakhir pada ritual semata. Pemaknaan terhadap simbol-simbol ritual ini juga harus jelas. Sebagai generasi muda Bali (Hindu) maka pemahaman terhadap filsafat dan budaya merupakan hal wajib yang mesti kita kembangkan dalam diri. Jangan sampai kita meninggalkan kearifan lokal  dan budaya karena tergerus mordenisasi.

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.