Ratusan KK di Desa Tembok, Buleleng mengalami kesulitan air bersih dan mengandalkan pasokan air tangki dan BPPD dan PDAM Buleleng. (BP/istimewa)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Warga Dusun Ngis dan Dusun Sembung, Desa Tembok, Kecamatan Tejakula sejak seminggu yang lalu kesulitan air bersih. Ini karena distribusi air bersih dari sumur bor yang dibangun Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali – Penida tidak berfungsi.

Warga mengandalkan air tangki bantuan Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Buleleng.
Warga yang terdampak akibat tidak berfungsinya sumur bor itu terdiri dari 150 Kepala Keluarga (KK) warga Dusun Ngis dan 150 KK warga dari Dusun Sembung.

Sejak aliran distribusi mati total, pengelola air bersih berupaya menelusuri penyebab terganggunya layanan air bersih di desa ujung Buleleng timur itu. Hasilnya, air di sumur bor tidak bisa dialirkan ke resevoar karena pipa yang ditanam sampai di dasar sumur pecah.

Mengantisipasi kesulitan air bersih terlalu lama, pihak pengelola bersama aparat desa melaporkan kerusakan sumur tersebut kepada BWS. Setelah dilaporkan, keinginan agar kerusakan itu sumur segara diperbaiki gagal.

Perbaikan ini tidak dapat dilakukan karena tidak ada anggaran perbaikan. Atas kondisi ini, pengelola dan aparat desa tetap mengandalkan bantuan air tangki, sehingga bisa meringankan kebutuhan warga di dua dusun tersebut.

Perbekel Desa Tembok, Kecamatan Tejakula Dewa Komang Yudi dihubungi Senin (3/9) membenarkan warganya kesulitan air bersih sejak satu minggu terakhir. Dia mengatakan, pascatidak berfungsinya sumur bor yang dibangun BWS, kebutuhan air bersih untuk keperluan memasak dan air minum dipenuhi dengan pasokan air tangki.

Baca juga:  Kesulitan Air Bersih Belum Tertangani, Program 100-0-100 Terancam

Sedangkan untuk keperluan mandi, mencuci, dan buang air, warganya harus mencari sumber mata air di dusun lain. Cara ini terpaksa dilakukan, karena pasokan air tangki bantuan dari BPBD dan PDAM Buleleng masih kurang.

“Air tangki hanya cukup untuk memasak dan air minum. Keperluan lain warga kami ada ke rumah kerabat di luar Dusun Ngis dan Sembung. Harapan kami lebih banyak air tangki dipasok, sehingga bisa mencukupi untuk keperluan MCK, tanpa harus ke luar dusun atau bahkan membeli air ke luar desa,” katanya.

Tokoh masyarakat yang juga anggota DPRD Buleleng asal Desa Tembok, Dewa Putu Tjakra, menyatakan prihatin. Ia mendesak pemerintah daerah melalui Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (PUPR) untuk membantu BWS mencari solusi atas kerusakan jaringan air bersih di Desa Tembok.

Upaya ini diharapkan karena, hasil koordinasi pengelola bersama aparat desa menyebut bahwa BWS tidak memiliki anggaran perbaikan. Mengantisipasi hal itu perlu bantuan pemerintah daerah.

Apalagi, masalah ini sering terjadi. Sehingga perlu ada solusi permanen termasuk kebijakan strategis yang bisa dilakukan pemerintah daerah atau pengelola sumur bor agar penanganan kerusakan lebih cepat dilakukan. (Mudiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.