TPA Mandung kembali dipasangi pipa penangkap metan di 7 titik baru untuk mencegah kebakaran. (BP/istimewa)

TABANAN, BALIPOST.com – Selain bau dan tumpukan sampah yang kian meninggi, salah satu permasalahan yang sering terjadi di TPA adalah produksi gas metan yang dihasilkan sampah. Jika gas metan ini terpicu akan menghasilkan api yang menyebabkan areal TPA terbakar.

Untuk mengurangi gas ini sejak tahun 2016 TPA Mandung memasang pipa penangkap gas metan. Tahun 2018 ini kembali dipasang pipa di tujuh titik.

Kepala UPT Mandung, Ni Luh Sukartini, Minggu (2/9), mengatakan pipa penangkap gas metan yang dipasang di tujuh titik ini sedang dalam proses pemasangan. Dananya berasal dari dana APBD sebesar Rp 30 juta.

Pemasangan pipa penangkap gas metan ini berfungsi untuk menangkap gas metan yang biasanya diproduksi sampah jauh di dalam tumpukan. Jika tidak ditangkap dan disalurkan oleh pipa, gas metan ini rentan menimbulkan api dan saat terbakar sumber apinya sangat sulit dicari dan dipadamkan karena berada jauh di dalam tumpukan sampah.

Menurut Sukartini sebelum adanya pemasangan pipa, dalam setahun pasti terjadi kebakaran di TPA Mandung yang menimbulkan asap dan tidak baik untuk kesehatan. “Munculnya tidak bisa diprediksi. Kalau sudah ada api, lama padamnya. Ada yang sampai setahun apinya tidak mati-mati,” ujar Sukartini.

Baca juga:  Markus Lewat, Perairan Selat Bali Berpotensi Terjadi Gelombang Tinggi

Dengan adanya tujuh titik baru, hingga saat ini di TPA Mandung memiliki total 40 titik yang dipasangi pipa penangkap gas metan. Semuanya dipasang di areal nonaktif TPA Mandung.

Gas metan ini disalurkan ke kompor gas yang tersambung dengan pipa penangkap gas metan. Gas ini kemudian digunakan TPA Mandung untuk memasak air maupun memasak makanan.

Diakui Sukartini pihaknya belum menghitung berapa volume gas yang disalurkan pipa-pipa ini setiap harinya. “Belum pernah diukur. Namun dengan adanya pipa ini, kebakaran karena gas metan di TPA Mandung tidak pernah terjadi lagi. Bahkan kami bisa mendapatkan bahan bakar untuk memasak air dan makanan tanpa mengeluarkan dana membeli bahan bakar gas,” ujarnya. (Wira Sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.