Bali Belum Bebas Rabies
Ilustrasi. (BP/dok)

GIANYAR, BALIPOST.com – Anjing liar marak ditemui hampir di seluruh kawasan Kabupaten Gianyar. Tidak hanya di perdesaan, namun daerah wisata seperti Ubud, juga banyak ditemukan anjing yang berkeliaran bebas. Kondisi ini pun diakui Kepala Dinas Pertanian Gianyar, Made Raka.

Dikatakan memang masih banyak masyarakat di Gumi Seni ini yang meliarkan anjing mereka. Padahal, setiap turun dan sosialisasi, petugas selalu memberikan arahan untuk mengandangkan atau mengikat anjingnya. “Dengan harapan supaya orang lain tidak menjadi korban,” jelasnya.

Menurut Raka, ada dampak buruk dari keberadaan anjing liar. Pertama, mengenai masalah rabies yang belum 100 persen tuntas. Kedua, terkait lakalantas yang melibatkan pemotor. “Ketika ada anjing lalu ada orang naik motor. Ditabrak, jadi pengendara jatuh,” jelasnya.

Dijelaskan Raka, selain memberikan arahan dan imbauan, pihaknya juga telah beberapa kali mengajak desa pekraman untuk memasukkan aturan rabies atau aturan anjing liar dalam aturan adat (perarem). Sejauh ini, baru ada dua desa yang menerapkan aturan rabies pada pararem. Yakni Desa Pering, Kecamatan Blahbatuh dan Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring. “Kami sudah sering menekankan yang semacam itu. Apalagi di daerah-daerah kasus,” ungkapnya.

Baca juga:  Awal Tahun, 65 Kasus Gigitan Anjing Terjadi di Tabanan

Made Raka mengatakan permasalahan yang kerap dihadapi petugas adalah sorotan negatif masyarakat ketika pihaknya mengeliminasi anjing yang terjangkit rabies. “Kami malah diancam, dianggap tidak sayang anjing. Karena kami mengeliminasi, dibilang kami membunuh anjing,” keluhnya.

Dikatakan pihaknya hanya hendak membantu masyarakat Gianyar dalam menuntaskan kasus rabies. “Kalau tidak ingin anjingnya dieliminasi, mohon pahami bersama, sayangi dan rawat anjing dengan baik, jangan sampai dibiarkan liar,” tandasnya. (Manik Astajaya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.