SINGARAJA, BALIPOST.com – Siswa SDN 3 Pemuteran, Kecamatan Gerokgak yang mengalami keracunan setelah menyantap nasi bungkus Rabu (13/6), seluruhnya telah dipulangkan ke rumahnya masing-masing. Mereka dipulangkan setelah mendapat perawatan medis di Puskemas Gerokgak I dan Rumah Sakit Pratama di Desa Tangguwisia, Kecamatan Seririt.

Para siswa yang sebelumnya mengeluh mual dan kepala pusing tersebut dipulangkan karena kondisi kesehatannya sudah dinyatakan sembuh oleh dokter.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda Olahraga (Disdikpora) Buleleng Gede Suyasa di sela-sela persiapan penutupan Buleleng Edukation Ekspo (BEE) 2018 di gedung kesenian Gde Manik Singaraja mengatakan, sampai Rabu (13/6) malam total ada 97 anak yang mengalami gejala keracunan setelah menyantap nasi bungkus dalam rangka perpisahan siswa kelas VI di sekolah setempat. Dari jumlah itu, ada 14 anak yang menjalani rawat inap masing-masing tujuh anak di Puskemas Gerokgak I dan tujuh lainnya dirawat di Rumah Sakit Pratama, Desa Tangguwisia.

Sedangkan sebagian besar anak menjalani rawat jalan karena gejala keracunan sudah mulai pulih. Sampai Kamis (14/6) ini, 14 anak yang rawat inap itu sudah dipulangkan dan dokter menyatakan gajala keracunan sudah hilang. “Baik yang rawat jalan dan rawat inap itu sudah dinyatakan sembuh dan sekarang tidak ada lagi anak yang dinyatakan mengalami gejala keracunan. Saya berterimakasih kepada Bupati dan Wakil Bupati termasuk Dinas Kesehatan yang telah merawat anak-anak dan biaya perawatannya dibebaskan seratus persen,” katanya.

Terkait penanganan lanjutan, Suyasa berjanji segera akan memanggil Kepala SDN 3 Pemuteran termasuk guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes) yang menyediakan nasi bungkus untuk anak-anak tersebut. Upaya ini dilakukan untuk memberikan peringatan kepada guru dan kepala skeolah agar ke depan tidak lagi guru atau warga sekolah lain yang menjual nasi bungkus atau makanan jenis lain kepada anak-anak.

Baca juga:  Dua Pekerja Migran Akhirnya Dipulangkan

Guru diingatkan tetap pada tugasnya mengajar dan tidak perlu mencari penghasilan tambahan dari menjual makanan untuk anak-anak. Kalau ini dibiarkan, pihaknya khawatir guru atau warga di sekolah lain tetap saja akan berjualan karena merasa tidak ada sanksi berat ketika teradi persoalan seperti keracunan makanan. “Tidak usah lagi berdagang, guru itu focus mengajar dan kalau berjualan tugas-tugas mengajarnya malah terganggu. Kami akan eveluasi lagi danperingatan keras akan kami berikan karena ini berulang-ulang terjadi,” jelasnya.

Suyasa menambahkan, selain memperingasti guru tidak berjualan di sekolah, dalam waktu dekat pihaknya akan menginstruksikan agar pengelolaan kantin sekolah dilakukan oleh pedagang dan bukan guru atau pegawai di sekolah. Ini penting karena, tugas guru atau pegawai tidak terganggu, namun makanan yang dijual pun akan terjaga kesehatannya dan kalau terjadi kasus keracunan seperti yang terjadi di SDN 3 Pemuteran, Disdikpora akan menuntut dengan keras pertanggungjawaban pihak yang mengelola kantin sekolah bersangkutan. “Masih banyak guru atau pegawai yang berdagang dan saya heran kenapa tidak dikasi orang yang berkompeten. Nanti sekolah juga saya instruksikan agar kantin dikelola oleh pedagang, dan kalau misalnay terjadi pelanggaran tentu kita bisa menuntut lebih tegas dan kesehatan makanan akan dijaga dengan,” jelasnya.

Puluhan anak SDN 3 Pemuteran, Kecamatan Gerokgak diduga mengalami keracunan setelah menyantap nasi bungkus yang dimasak oleh salah seorang guru di sekolah setempat. Nasi bungkus itu berisikan lauk daging ayam, daging babi, mi instan, dan sambal.

Sekitar pukul 10.00 wita, mereka bersama-sama menyantap nasi bungkus tersebut. Setelah pulang sekolah, ana-anak ini mengeluh mual-mual sampai merasaan kepala pusing. Dari jumlah itu tercatat 14 anak menjalani rawat inap di puskemas dan rumah sakit karena masih menunjukkan tanda-tanda keracunan. (Mudiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.