DENPASAR, BALIPOST.com – Kasus HIV/AIDS pertama kali muncul di dunia pada tahun 1981. Enam tahun kemudian atau pada tahun 1987, HIV/AIDS pertama kali terdeteksi di Bali.

Kala itu, ada seorang warga negara asing mengalami sebuah penyakit yang tidak diketahui penyebabnya. Tampilan atau gejalanya seperti penyakit luar biasa dan mematikan karena yang bersangkutan pada akhirnya memang meninggal dunia.

HIV/AIDS lantas dihubungkan dengan orang yang berasal dari luar negeri dan juga orientasi homoseksual. “Ternyata setelah sekian lama dan sampai dengan detik ini sudah 31 tahun, tampilannya jauh dari apa yang muncul jaman dulu yakni banyak mitos, stigma dan diskriminasi akibat ketidaktahuan masyarakat tentang infeksi ini,” ujar Ketua Asosiasi Seksologi Indonesia Cabang Denpasar, dr. Oka Negara, FIAS, dalam acara Malam Renungan AIDS Nusantara Provinsi Bali Tahun 2018 di Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Jumat (18/5).

Tahun ini, malam renungan AIDS nusantara mengangkat tema “Renungkanlah Masa Lalu, Siapkan Masa Depan”. Di Bali, lanjut Oka, informasi tentang HIV/AIDS berkembang cukup baik.

Walaupun sudah menemukan titik bahagia, namun kerja keras masih diperlukan untuk menanggulangi HIV/AIDS. Kabar gembiranya adalah, HIV yang dideteksi sedini mungkin dapat diperiksa dan ditangani dengan baik. Dalam hal ini, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dapat mengakses ARV sebagai obat.

“Sayang tidak semua mendapatkan akses itu dengan baik, dan yang mendapatkan akses itu juga tidak bisa menjalankan dengan rutin dan teratur,” katanya.

Baca juga:  Paruman Dharma Ghosana, Ini Harapan dan Tujuannya

Perwakilan Orang Terinfeksi HIV, KDS (Kelompok Dukungan Sebaya), LSM, dan Komunitas/Individu Pemerhati Penanggulangan HIV/AIDS di Bali, Desy mengatakan, penaggulangan HIV/AIDS harus dilakukan secara lebih maksimal dan terbuka. Pemerintah diharapkan meningkatkan cakupan jaminan kesehatan bagi orang terinfeksi HIV.

Termasuk meningkatkan anggaran daerah untuk penanggulangan HIV/AIDS dalam mencapai target 90-90-90. “90 persen tes HIV, 90 persen rutin minum ARV, 90 persen viral load-nya tidak terdeteksi sesuai target UNAIDS 2030,” sambungnya.

Desy menambahkan, segala bentuk stigma, kriminalisasi dan diskriminasi terhadap kelompok-kelompok marginal seperti waria, pengguna narkotika, LSL, dan pekerja seks harus dihentikan. Penanggulangan HIV/AIDS agar melibatkan seluruh OPD, hingga desa Pakraman.

Ketua Panitia Malam Renungan AIDS Nusantara, dr. Ketut Suarjaya mengatakan, masih kuatnya stigma dan diskriminasi terhadap ODHA menjadi penghambat upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Itu sebabnya, epidemi HIV/AIDS di Bali meningkat dari tahun ke tahun. Kegiatan malam renungan ini diharapkan menjadi wahana dukungan moral spiritual bagi ODHA agar tetap bersemangat menjalani kehidupan, tidak menularkan, dan menjadi garda terdepan dalam upaya penanggulangan.

Di samping meningkatkan empati, serta mereduksi stigma dan diskriminasi masyarakat terhadap ODHA dan keluarganya. “Kami juga ingin meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman AIDS, agar berpola dan berperilaku hidup sehat,” imbuh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali ini. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.