Dinas Koperindag ketika melakukan sidak ke beberapa toko dan swalayan untuk mengecek sarden yang diduga mengandung cacing. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Dalam beberapa hari terakhir, dunia kesehatan dan makanan disibukkan dengan adanya penemuan cacing dalam ikan kaleng oleh BPOM. Sejumlah merk pun telah diumumkan BPOM agar ditarik dari peredaran karena mengandung cacing.

Menindaklanjuti hal ini, sejumlah ikan dalam kaleng juga sudah ditarik dari pasaran, baik oleh BPOM maupun dinas terkait. Soal adanya cacing pada ikan ini, Dr. dr. I Made Sudarmaja, M.Kes, mengungkapkan bahwa cacing pada ikan merupakan fenomena yang alami.

Karena cacing pada ikan kaleng yang ditemukan belum lama ini diduga cacing jenis anisakis. Habitat alami cacing ini adalah pada ikan jenis mamalia laut, seperti paus, lumba-lumba dan anjing laut.

Dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (FK Unud) yang menekuni parasitologi ini mengatakan cacing pada mamalia laut tersebut merupakan cacing dewasa. Cacing ini akan bertelur dan jatuh bersama kotoran mamalia di air laut.

Di air laut larva cacing menetas dan termakan oleh udang-udangan. Cacing pun berkembang pada otak udang. Udang termakan cumi, ikan tongkol, dan beberapa jenis ikan laut. Pada fase yang disebut larva stadium 3 ini cacing telah berukuran 1-5 cm.

Baca juga:  Ditarik dari Pasaran, Sejumlah Merk Makanan Kaleng Makarel Masih Ditemukan di Jembrana

Mengingat cacing ini secara alami telah ada pada ikan, maka dari itu ia menyarankan mengonsumsi ikan yang matang. Karena ikan yang dimasak membuat cacing dalam ikan akan mati, apalagi ikan dalam kaleng.

Ikan dalam kaleng telah melalui proses pematangan. Di samping itu, dalam kaleng juga tidak ada oksigen. Sehingga, jika ada cacing dalam ikan tersebut, tidak akan mampu hidup karena oksigen tidak ada. Selain itu, ikan kaleng sebelum disajikan juga dimasak kembali sehingga cacing akan mati.

Beda halnya dengan ikan mentah yang mengandung cacing. Ikan akan dapat menyebabkan hipersensifitas pada manusia yang kekebalan tubuhnya lemah. Reaksi hipersensitif yang muncul seperti diare, muntah, nyeri perut, kram pada perut. “Bukan keracunan, tapi hipersensitif, alergi,” ungkapnya Kamis (5/5).

Tidak semua ikan mengandung cacing anisakis. Namun hanya ada pada ikan yang memakan ikan (karnivora) atau ikan yang memakan udang. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.