Para pekerja tengah melakukan proses packaging pensil di pabrik PT A W Faber-Castell Indonesia Narogong-Bantar Gerbang, Bekasi. (BP/eka)

JAKARTA, BALIPOST.com – Mendengar Faber-Castell, maka yang terlintas dalam pikiran adalah alat tulis dan gambar. Brand asal Jerman ini terus berkembang dengan memproduksi berbagai alat tulis baik untuk anak-anak, general writing and marking, art and graphic, dan premium. Sebagai salah satu perusahaan alat tulis terbesar dan tertua di dunia, Faber-Castell memiliki puluhan kantor perwakilan di seluruh dunia, memiliki 14 pabrik di 10 negara, termasuk di Indonesia.

Di 2018, Faber-Castell International Indonesia (FCII) mengajak puluhan jurnalis dari berbagai kota di Indonesia melihat secara dekat proses produksi Faber-Castell. Kunjungan diawali di Store Faber-Castell di Plaza Senayan, Minggu (25/3). Outlet yang dibuka di 2017 lalu merupakan store pertama dan satu-satunya di Indonesia. Dalam store dipajang dan dijual berbagai produk Faber-Castell, mulai dari general writing sampai ke premium, hingga sejumlah produk yang tidak ada di toko maupun distributor lainnya.

Hari berikutnya, kunjungan di pabrik marker PT Faber-Castell Internasional Indonesia (FCII) yang berada di kawasan MM2100 Gandasari-Cikarang Barat, Bekasi. Pabrik ini memproduksi conector pen atau spidol. Dalam setahun, total produksi sekitar 80-100 juta batang.

Keunggulan produk konektor pen FCII, menggunakan bahan yang aman bagi anak-anak, salah satunya menggunakan pewarna makanan. Ini merupakan hal yang penting, karena didalam pengunaannya terkadang anak-anak memasukkan conector pen ke mulut. Hal itu diterangkan Product Manager FCII Richard Panelewen, Senin (26/3) saat Faber-Castell Journalist Goes to Factory 2018.

Pada kesempatan tersebut ditampilkan beberapa inovasi produk baru FCII, seperti Magic Art. Produk ini mengimplementasikan mewarnai dengan  satu ketrampilan sulap. Kemudian 3D Art, dimana dengan menggunakan kacamata khusus 3D, hasil mewarnai dapat terlihat 3D.

Dan Colour to Lite, ini merupakan produk terbaru FCII yang akan segera diluncurkan. Produk ini merupakan integrasi mewarnai dengan dunia digital. Dengan Colour to Lite, karakter yang diwarnai tersebut dapat ditampilkan di smart phone, tentunya dengan memasang aplikasinya terlebih dahulu.

Dengan munculnya karakter yang diwarnai dalam smartphone, pengguna juga dapat melakukan swafoto dan memainkannya. Ada lima karakter yang ditawarkan dalam Colour to Lite, dan setiap karakter memiliki permainan yang berbeda pula.

Baca juga:  Serba Digital di Workshop Standardisasi Penyediaan Informasi Pariwisata

Menurut Brand Manager FCII Fransiska Remila, Faber-Castell selalu menjunjung history,  memperhatikan kompetensi dan tradisi. Kompeten dimaksud dari pertama kali membuat pensil hingga kini masih tetap membuat pensil, meskipun juga mengembangkan banyak kompetensi lainnya. Selalu berusaha menjadi yang terbaik di kelasnya, berinovasi, dan berkembang.

Terkait sejarah Faber-Castell, Remila menceritakan secara garis besarnya, Faber-Castell didirikan Kaspar Faber sejak 1761 di Stein-Nuremberg, Jerman. Perjalanan usaha tersebut terus berkembang hingga pada 1839, Baron Lothar von Faber yang merupakan generasi ke-4 menjadi pimpinan perusahaan dan menamai sebuah pensil dengan A W Faber.

Di era ini modernisasi pensil dan tingkatan (grade) pada pensil 6H-8B terjadi. Sehingga Lothar von Faber dikenal sebagai Bapak Pensil. Sedangkan nama Faber-Castell muncul 1898 pada generasi ke-6. Faber-Castell merupakan penggabungan dua nama keluarga.

Penggabungan ini dari pernikahan Baroness Ottilie von Faber dengan salah satu keluarga bangsawan tertua di Jerman, Count Alexander zu Castell-Rudenhausen. Kemudian di generasi ke-8 perusahan keluarga tersebut mulai membangun produk premium.

Untuk mengetahui produksi pensil, rombongan jurnalis melanjutkan kunjungan ke pabrik PT A W Faber-Castell Indonesia (FCI). Pabrik yang berlokasi di Narogong-Bantar Gerbang, Bekasi tersebut memproduksi  black lead pencil atau pensil hitam dan pensil warna.

Di pabrik ini proses produksi dibagi dalam empat tahap, pertama proses raw pencil. Pada tahap ini proses pembuatan pensil dilakukan. Mulai dari penyusunan lempengan kayu, memasukkan lead, penggabungan hingga pemotongan. Kemudian tahap painting atau pewarnaan pencil, kemudian dilanjutkan tahap finishing. Ditahap ini dilakukan proses pemasangan lebel, perautan pensil dan dibeberapa pensil terdapat pemasangan penghapus. Tahap terakhir yakni packaging atau pengemasan.

Management Representative FCI Pandu Damardjati  menerangkan bahwa dalam seminggu pabrik memproduksi pensil sekitar 60 ribu gross pensil. Sedangkan untuk bahan baku dalam pembuatan pensil diambil dari sejumlah jenis kayu dengan kualitas yang telah ditentukan. Sebagian besar suplai kayu didatangkan dari dalam negeri, dan ada beberapa jenis kayu yang diimport. Untuk pemasaran produk, sekitar 24 persen produk diserap di dalam negeri dan sisanya dieksport ke beberapa negara. (Eka Adhiyasa/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.