kecelakaan
Objek wisata di Nusa Penida. Masih ada yang belum dilengkapi pengaman berupa pagar sehingga rawan kecelakaan. (BP/sos)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Perkembangan objek wisata di Kepulauan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, beberapa tahun belakangan semakin pesat. Ini menjadi handalan Pemkab untuk mencapai target kunjungan wisatawan tahun ini yang mencapai 478.169 orang.

Ditengah hal itu, rawan kecelakaan masih menghantui sejumlah objek. Hal tersebut tak terlepas dari kondisinya bertebing dan cukup curam. Upaya pengamanan dengan pembangunan pagar juga belum berjalan maksimal. Keterbatasan anggaran menjadi salah satu penyebab.

Kadis Pariwisata Klungkung, I Nengah Sukasta, Minggu (11/3) menjelaskan, berdasarkan data terakhir, di kepulauan The Blue Paradise Island itu terdapat 15 objek wisata. Dari itu, terdapat sepuluh titik yang perlu diwaspadai. Pasalnya itu masuk kategori bahaya dengan kondisi geografis yang bertebing. Beberapa diantaranya Pasih Uwug (broken beach), Atuh, Melenteng, Devil Tear dan Klingking. “Tempatnya tersebar di sejumlah lokasi. Tapi yang paling banyak di Nusa Gede. Ini bertebing,” ungkapnya.

Objek tersebut diakui belum sepenuhnya dilengkapi pagar pengaman. Partisipasi masyarakat dalam pembangunannya belum maksimal. Khusus untuk di objek Devil Tear telah dilakukan oleh Asita Bali dan Bali Liang sepanjang 170 meter dari total panjang sekitar 350 meter. “Kalau peran masyarakat sudah ada. Tapi belum maksimal. Itu karena bahan pagar cukup mahal. Dari pelaku pariwisata sudah ada yang membantu,” katanya.

Khusus pembangunan oleh Pemkab, Pejabat asal Lingkungan Kemoning, Kelurahan Semarapura Klod ini mengaku perencanannya dilakukan pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) dan terealisasi 2019. “Kalau sekarang kan tidak memungkinkan. Karena anggaran sudah jalan. Diperubahan akan dibuat perencanaannya,” jelasnya.

Baca juga:  Media Eropa Juluki Nusa Penida Bali, Permata Tersembunyi

Mengantisipasi kecelakaan, sementara pada objek tersebut hanya dipasangi rambu himbuan. Ini pun mendapat dukungan dari pelaku pariwisata dan juga kepolisian. “Pemasangan rambu sudah berjalan. Sudah ada dititik berbahaya,” katanya.

Sejak awal tahun, tercatat suda ada tiga wisatawan asing jatuh ke tebing di Nusa Penida. Pertama, Keren Tatarenko asal Rusia. Tragedi di Desa Bunga Mekar itu diawali dengan sepeda motor yang ditungganginya oleng saat melintasi jalan berkrikil. Ia pun meninggal dunia setelah jatuh di tebing setnggi 200 meter. Kedua, wisatawan asal Cina, Wu Shanshem dan Yang Lin. Mereka terperosok di Devil Tears, Nusa Lembongan setelah terhempas ombak saat selfie. Beruntung, nyawanya dapat terselamatkan.

Wisata bahari juga memakan korban. Yakni seorang anggota TNI, I Made N, Nisal Koushika Kotinkaduwa asal Sri Langka dan Kostadin Kanavrov asal Bulagria hilang setelah melakukan kegiatan spear fishing. Menanggapi sejumlah tragedi itu, Sukasta menyatakan tak seluruhnya akibat pengamanan yang kurang maksimal. Namun ada karena wisatawan yang tak menghiraukan petunjuk. “Wisatawan masih ada yang mengabaikan keselamatan. Padahal sudah ada himbauan,” tegasnya.

Anggota DPRD Klungkung, I Made Jana sempat menyebutkan aspek keselamatan pada objek wisata harus benar-benar diperhatikan. Jika itu terabaikan, dikhawatirkan kejadian serupa terulang lagi dan berimbas  pada kunjungan wisatawan kedepannya. “Kalau tak ada langkah pencegahan dan kejadian serupa terulang lagi, dikhawatirkan berdampak negatif terhadap kepariwisataan,” ungkapnya.(Sosiawan/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.