Abrasi di Buleleng khususnya dan Bali pada umumnya makin parah dengan adanya cuaca ekstrem. (BP/dok)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Terbatasnya porsi anggaran dari pemerintah pusat, membuat daerah yang mengusulkan penanganan abrasi belum terpenuhi dengan optimal. Setidaknya, kondisi ini akan dialami Kabupaten Buleleng. Kerusakan pesisir di Utara Bali ini terancam tidak bisa ditangani karena minimnya kucuran dana dari pusat.

Menurut Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali–Penida, Ketut Jayada, di Provinsi Bali ada beberapa kabupaten yang sebenarnya membutuhkan dana untuk menangani abrasi pantai. Daerah itu terutama Jembrana, Karangasem, Klungkung, dan Buleleng sendiri.

Kebutuhan anggaran untuk mengatasi abrasi ini tegolong besar karena memang biaya pengerjaannya pun tergolong mahal. Sementara, satu-satunya dukungan anggaran dari pemerintah pusat tidak mampu memenuhi kebutuhan dana tersebut. “Terima kasih kepada kawan-kawan media yang sudah meliput menyuarakan kebutuhan anggaran untuk abrasi utamanya Jembrana, Karangasem, Klungkung, dan Buleleng. Tapi kita tidak bisa berbuat banyak karena kebijakan pemerintah pusat itu penanganan abrasi dengan skala prioritas, sehingga tak bisa semua usulan penanganan abrasi bisa direalisasikan,” katanya.

Menurut Jayada, tahun 2018 ini BWS Bali–Penida diberikan jatah anggaran untuk penanganan abrasi sebesar Rp 6 miliar. Dana sebesar itu tak bisa merealisasikan semua usulan dari daerah, terutama dari empat kabupaten di Bali tersebut.

Baca juga:  Pentingnya Informasi Peringatan Dini

Ia menyebutkan tahun ini dana penanganan abrasi diprioritaskan menangani abrasi di Kabupaten Klungkung. Sementara itu untuk Buleleng sendiri, Jayada menyebut usulan penanganannya akan menunggu kebijakan anggaran dari pusat itu sendiri. “Empat kabupaten itu “teriak” meminta penanganan abrasi. Tapi karena kita melaksanakan kebijakan skala prioritas itu sehingga Klungkung kita utamakan untuk menangani abrasi karena kondisi kerusakan pantai di sana sangat parah dan mengancam akses Umat Hindu untuk melakukan aktivitas keagamaan ke Pura Dalem Ped,” jelasnya.

Jayada mengutarakan kerusakan pantai ini terjadi karena dampak cuaca ekstrem yang sudah menjadi siklus setiap tahun. Bukan hanya menambah kerusakan pantai yang baru, namun akibat cuaca ekstrem sering menambah parah kerusakan yang sudah terjadi sebelumnya, sehingga menambah parah kerusakan yang terjadi.

Hal seperti terjadi di perairan di Kecamatan Kubutambahan, Tejakula, dan wilayah lain. Kerusakan pantai kembali terjadi karena setelah pantai yang terabrasi belum bisa ditangani, kerusakannya sekarang semakin bertambah parah. Meski demikian, khusus untuk Buleleng, Jayada mengklaim bahwa sudah banyak kerusakan pantai di daerah ini berhasil ditangani. (Mudiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.