Salah satu pengungsi yang masih tinggal di posko pengungsian Sibetan. (BP/gik)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, sempat menjadi lokasi yang padat pengungsi. Saat awal status awas, seluruh bale banjar dan gedung lainnya dimanfaatkan untuk menampung pengungsi dari warga berbagai banjar di Desa Jungutan, desa yang terletak di kaki Gunung Agung.

Kini, setelah radius berbahaya sudah diturunkan, sebagian besar warga pengungsi sudah kembali. Pengungsi di desa ini tinggal tiga titik, yang dipusatkan di Banjar Kreteg, Tengah dan Dukuh.

Perbekel Sibetan I Nyoman Kompyang Suarjana, Sabtu (28/1) lalu, mengatakan pemerintah selama ini sudah cukup sigap membantu penanganan pengungsi di wilayahnya. Demikian juga kalangan BUMN dan swasta yang datang dengan berbagai program. Mulai dari membantu ketersediaan logistik hingga memberikan pengobatan gratis. “Desa Sibetan kini masih menampung 1.113 pengungsi dari banjar-banjar di Desa Jungutan. Mereka kita ditempatkan di tiga titik pengungsian, yakni di Banjar Dukuh, Banjar Tengah dan Banjar Kreteg,” ujarnya.

Sebagian besar warga mengaku pasrah dan menunggu instruksi yang berwenang sebelum memutuskan ikut pulang. Sebab, sudah dua kali mereka bolak-balik mengungsi, dimana bekal sudah habis. “Sudah empat bulan di sini. Belum berani pulang, lagian kalaupun bisa pulang tidak ada yang bisa dikerjakan,” ungkap Ni Ketut Kupia (53), salah seorang warga Banjar Yeh Kori yang menempati pos pengungsian Banjar Dukuh, Sibetan.

Baca juga:  Kunjungi Posko di Rendang, Bintang Puspayoga Semangati Para Pengungsi

Kupia mengaku tak punya pilihan kecuali bertahan di pengungsian. Pasalnya saat ini potensi ancaman bahaya terhadap kampungnya jauh lebih besar.

Bukan hanya erupsi yang dikhawatirkan tapi banjir lahar dingin dampak musim hujan. ‘’Gentuh (banjir) hampir setiap hari, soalnya kampung kami sangat dekat (dengan puncak gunung-red),’’ jelasnya.

Pengungsi di Banjar Dukuh mengaku cukup nyaman meskipun kasur untuk alat tidur terbatas. Sebagian besar hanya menggunakan karpet.

Namun untuk pasokan logistik, cukup memadai. Kondisi demikian juga disampaikan pengungsi lainnya, Nyoman Singarsa. Lansia berumur 65 tahun ini mengaku badan sakit saat baru bangun, karena tidur hanya beralaskan tikar. “Kaki juga kesemutan. Dulu di rumah masih biasa beraktivitas ke tegalan. Sekarang berdiri saja susah,” keluhnya. (Bagiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.