nusa penida
Ilustrasi. (BP/dok)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Warga Desa Suana, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Wayan Riada (24) meregang nyawa di RSUD Klungkung, Senin malam (1/1). Pria yang berprofesi sebagai perawat ini diduga terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Menindaklanjuti hal tersebut, Dinas Kesehatan Klungkung llangsung turun melakukan surveilands dan melakukan langkah-langkah antisipasi munculnya kasus serupa.

Informasi Selasa (2/1), Riada sempat menjalani perawatan di RS Pratama Gema Santi, Nusa Penida selama lima hari lantaran menderita demam. Namun, Senin siang sekitar pukul 13.00 Wita, kondisinya semakin drop dan langsung dirujuk ke RSUD Klungkung yang berlokasi di Jalan Flamboyan.

“Kemarin (Senin –red) dapat perawatan di UGD. Meninggal pukul jam delapan malam. Informasi dari dokter, diduga karena DBD karena trombosit tidak stabil,” terang kerabat korban, I Wayan Sukadana.

Kini, jenazah pria yang menjadi tenaga kontrak di RS Pratama Gema Santi itu telah dibawa ke rumah duka menggunakan boat dari pelabuhan Padangbai, Karangasem. “Saat menyebrangkan juga sulit mencari boat. Kami juga berharap hal-hal seperti ini kedepannya bisa mendapatkan perhatian dari pemerintah,” ungkapnya.

Baca juga:  Pemkab Diminta Realisasikan BP untuk Nusa Penida

Sementara itu, Direktur RSUD Klungkung, I Nyoman Kesuma mengungkapkan saat masuk UGD, kondisi Riadi sudah kejang-kejang dan meninggal usai menjalani pemeriksaan darah. “Belum diperiksa macam-macam sudah kejang. Baru sempat pemeriksaan darah saja. Setelah itu dibantu oksigen dan meninggal jam delapan malam. Dia suspect DBD,” katanya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Klungkung, Ni Made Adi Swapatni mengatakan setelah mendapat informasi itu, petugas surveilands sudah langsung turun dan melakukan langkah-langkah antisipasi munculnya kasus susulan. “Kasus seperti ini tumben terjadi. Kami sudah lakukan langkah-langkah antisipasi,” sebutnya.

Cuaca seperti saat ini, sambungnya memang rentan memicu munculnya penyakkit DBD. Oleh sebab itu, masyarakat dminta waspada. Langkah-langlah antiisipasi juga perlu digencarkan. “Jangan lengah sama lingkungan. Kalau Fogging ada SOP. Ini tidak akan menyelesaikan permasalahan. Masing-masing banjar sudah ada jumantik. Kami harapkan terus bergerak melakukan langkah antisipasi,” pintanya.

Pada 2017 telah muncul 210 kasus DBD, turun dar 2016 yang mencapai 900 kasus. “Kasus memang menurun, tapi situasi seperti sekarang, harus tetap waspada,” pungkasnya. (sosiawan/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.