Sejumlah dokter fungsional di RSUD Buleleng datang ke DPRD untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi, Senin (11/12). (BP/mud)
SINGARAJA, BALIPOST.com – Sekitar 20 orang dokter fungsional RSUD mendatangi pimpinan DPRD Buleleng Senin (11/12). Dokter berbagai keahlian ini mengadukan beberapa masalah yang hampir tiga tahun terjadi di RSUD dan belum diselesaikan oleh manajemen rumah sakit.

Masalah yang diadukan menyangkut peralatan medis yang rusak dan tidak pernah diganti, stok obat kosong, hingga kebijakan direksi dan mengganti dokter diduga tanpa mempertimbangkan kualifikasi pendidikan. Pantauan di gedung DPRD Buleleng, dokter fungsional ini datang ke gedung dewan sekitar pukul 15.00 wita.

Puluhan dokter bertemua Ketua DPRD Gede Supriatna di ruang kerjanya. Hadir juga menerima kedatangan para dokter itu Ketua Komisi IV Gede Wisnaya Wisna bersama anggotanya Nyoman Gede Wandira Adi. Pertemuan tersbeut berjalan alot dan berakhir sekitar pukul 19.00 wita.

Koordinator dokter fungsional RSUD dr. Ketut Suteja Wibawa mengatakan, keputusan untuk menyampaikan aspirasi kepada dewan setelah pihaknya secara resmi melayangkan surat terkait permasalahan dengan pihak rumah sakit. “Seperti Mikroskop, kami terpaksa bawa sendiri karena yang ada di rumah sakit rusak dan belum juga diganti,” katanya.

Selain peralatan, dr. Suteja mengatakan pesediaan stok obat-obatan di apotek rumah sakit banyak yang kosong. Atas kondisi ini pihaknya terpaksa mencarikan obat lain hingga keluar rumah sakit.

Bahkan, kondisi ini berpengaruh terhadap kesembuhan pasien itu sendiri. Tidak itu saja, kebijakan direksi dinilai arogan, terutama ketika ada pergantian dokter fungsional dilakukan tanpa mempertimbangkan kualifikasi pendidikan dokter itu sendiri. Padahal, sesuai ketentuan ada dasar dan pertimbangan kualifikasi keahlian menentukan ketika dilakukan pergantian dokter.

Baca juga:  Didukung, Penetapan Sempadan Danau Buyan

Kendati dilanda masalah pelik, dr. Suteja mengaku tetap berusaha memberikan pelayanan optimal kepada pasien. Akan tetapi, permasalahan itu tetap disampaikan ke DPRD agar difasilitasi untuk mendapatkan jalan kalua. “Kami tetap memberikan pelayanan maksimal kepada pasien, tapi karena ini sudah terjadi lama belum ada jalan keluar, kami minta dewan memfasilitasi, sehingga manajemen tidak arogan dan ini demi peningkatan mutu pelayanan rumah sakit,” jelasnya.

Menganggapi permasalahan ini, Ketua Dewan Gede Supriatna mengatakan akan dipelajari lebih lanjut. Terkait pengaduan peralatan yang rusak atau stok obat-obatan yang kosong, Supriatna menilai itu masalah kecil dan harusnya bisa diselesaikan dengan cepat.

Ia menenkankan yang paling penting, hubungan yang tidak baik antara manajemen dengan dokter fungsional ini harus diselesaikan dengan cepat. Untuk itu, pihaknya menugaskan Komisi IV untuk memfasilitasi. “Kita sudah diskusikan tadi memang aspirasinya menyangkut obat kosong, alat rusak, dan hubungan yang tidak baik antara direksi dengan dokter fungsional. Kami akan fasilitasi dan Komisi IV sudah saya instruksikan untuk memfasilitasi,” ujarnya.

Terkait persoalan yang ada, Direktur Utama (Dirut) RSUD Buleleng dr. Gede Wiartana, M.Kes membantah pengaduan yang mengatasnamakan dokter fungsional di rumah sakit yang dipimpinnya itu. Wiartana mengatakan pengaduan tersebut sangat menyesatkan, tendensius, dan provokatif agar suasana di rumah sakit gaduh. “Setelah saya baca isi suratnya itu tidak benar. Menurut saya ini provokatif biar suasana di rumah sakit gaduh,” katanya. (Mudiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.