gunung agung
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementrian ESDM RI, Kasbani. (BP/rin)
DENPASAR, BALIPOST.com – Status Gunung Agung hingga saat ini masih ditetapkan pada level IV atau awas. Artinya, potensi erupsi masih bisa terjadi lagi setiap saat. Oleh karena itu, radius tertentu masih harus dikosongkan untuk menghindari bahaya. Baik bahaya primer yakni material piroklastik letusan Gunung Agung, maupun bahaya sekunder berupa banjir lahar hujan.

“Sampai saat ini, perkembangan Gunung Agung aktivitasnya masih tinggi dan fluktuatif. Dari pengamatan visual masih ada embusan asap,” ujar Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementrian ESDM RI, Kasbani, saat berkunjung ke Bali Post bersama Kepala BPBD Provinsi Bali, Dewa Made Indra, Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Komunikasi Publik, Hadi M. Djuraid dan Kepala Museum Geologi Gunung Batur, Desak Andaryani, Rabu (6/12).

Menurut Kasbani, pihaknya tidak hanya mengandalkan satu parameter saja untuk menentukan status gunung berapi. Akan tetapi komprehensif dan menyeluruh meliputi data seismik, deformasi, geokimia dan penginderaan jauh satelit.

Gunung Agung sendiri dikatakan istimewa. Selain terletak di Bali yang merupakan destinasi pariwisata internasional, pihaknya juga tidak memiliki instrument pembanding seperti pada gunung-gunung berapi lainnya. “Kita mempunyai pos pemantauan itu setelah erupsi tahun 1963. Jadi kita tidak mempunyai instrument pembanding. Berbeda dengan gunung lain seperti Merapi, itu punya data pembanding sehingga lebih mudah dilakukan analisis dan evaluasi,” paparnya.

Baca juga:  Ribuan Pengungsi Pulang, Puluhan Tenda di GOR Swecapura Dibongkar

Kasbani mengaku masih banyak belajar untuk menginterprestasi lantaran tidak adanya instrument pembanding itu. Disisi lain, Gunung Agung juga istimewa lantaran mampu bertahan meski dari sisi kegempaan jumlahnya sangat besar. Selama ini, belum pernah ada gunung berapi selain Gunung Agung yang aktivitas gempanya mencapai hingga 800 kali per hari.

“Di Indonesia, gempa di Gunung Agung itu rekornya paling banyak per harinya. Amplitudonya juga besar, gempa-gempa terasa juga sangat banyak,” jelasnya.

Kasbani menambahkan, Gunung Agung juga beberapa kali mengalami gempa tremor overscale. Dari pengalamannya, gempa tremor overscale biasanya diikuti dengan letusan. Namun sepanjang sudah berada di radius yang aman, masyarakat dikatakan tidak perlu waswas. “Karena pengalaman di tempat lain, ya… ada rasa waswas. Kalau ada overscale, biasanya indikasi untuk terjadi erupsi. Erupsi itu bisa lava keluar, bisa abu, bisa yang lainnya. Jadi potensi seperti itu, tidak harus langsung besar,” imbuhnya. (rindra/balipost)

 

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.