Suasana di jalan ke Pantai Kuta nampak sepi dari wisatawan. (BP/ist)
MANGUPURA, BALIPOST.com – Pascaerupsi Gunung Agung, banyak wisatawan yang cancel ke Bali. Dari data yang ada, per hari sebanyak 18 ribu wisatawan membatalkan kunjungannya.

Selain itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati mengungkapkan terjadi penurunan lama tinggal selama 3-4 hari. Dikatakannya wisatawan yang batal ke Bali tersebut, diperkirakan biaya per kedatangannya menurut Bank Indonesia (BI), sekitar Rp 13.500.000.

Bahkan, karena sebagian besar pariwisata berada di kabupaten Badung, potensi kerugian di Badung diperkirakan diatas 250 miliar atas pembatalan 18.000 per hari tersebut. “Dari jumlah itu, selama 4 hari saja sudah sebanyak 1 triliun kerugiannya yang dialami Badung dari transaksi wisatawan,” ucapnya.

Terkait hal tersebut, ada dua hal yang menjadi atensi, yaitu menyangkut daya tahan Bali dan daya saing Bali. Daya tahan Bali dilihat dari tiga aspek, suprastruktur, sumber daya manusia dan infrastruktur.

Sementara, Bupati Badung, Nyoman Giri Prasta berharap, bagaimana pariwisata di Bali bisa dilakukan dengan baik. Sesuai dengan konsep awal yaitu one island one management. Konsep ini dikatakannya merupakan roh pariwisata. Dari sisi aspek yuridis berupa peraturan baik dari pemerintah daerah maupun pusat. Dari sisi filosofis yaitu sejarah serta sosiologis yaitu pesemetonan atau menyamabraya. “inilah yang harus dilakukan dengan baik,” ujarnya.

Baca juga:  Batuhoda, Destinasi Pantai di Danau Toba

Giri Prasta mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga Bali. Bali perlu dijaga adalah alam, manusia dan budayanya. Karena saat ini sudah diberikan berkah oleh tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa, hal itu harus dikelola dengan baik.

Jangan sampai Bali terkanal, Bali kelihatannya kuat di Internasional, tapi rakyat Bali tidak merasakan hal itu. “Oleh karena itu, kita contohkan di Badung, krama Badung harus bisa menjadi tuan di rumah sendiri. Nanti krama Bali juga harus menjadi tuan di rumah sendiri,” pungkasnya.

Pihaknya juga membantah tertutup kepada investasi. Malah, saat ini pihaknya terbuka terhadap investasi, tapi tidak boleh mengubah tatanannya, seperti alamnya, manusianya, dan budayanya. “Kita akan buka investasi seluas-luasnya, namun dengan catatan tidak boleh memarginalkan masyarakat yang ada di sekitarnya,” tegasnya.

Diungkapkannya, dulu wisatawan ke Bali, lenght of stay nya bisa sampai 10-15 hari bahkan ada yang sampai satu bulan. Namun Sekarang maksimal 5 hari, bahkan ada 1 hari.

Yang paling menghawatirkan, sekarang Bali digunakan sebagai tempat transit saja untuk menuju ke lokasi lain. “Untuk itu, dengan konsep one island one management ini, harus dibuat untuk one stop destination dari 9 kabupaten/kota,” harapnya. (Yudi Karnaedi/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.