hibah
Ilustrasi. (BP/dok)
DENPASAR, BALIPOST.com – Meletusnya Gunung Agung diawali dengan letusan freatik sejak beberapa hari lalu telah mengguncang ekonomi Bali. Ditambah dengan penutupan bandara sejak Senin pukul 07.00 hingga saat ini semakin membuat ekonomi Bali yang ditopang pariwisata terpuruk. Diprediksi hingga akhir tahun ekonomi tumbuh melambat yaitu di sekitaran 5,2 persen sampai 5,6 persen.

Asisten Direktur Bank Indonesia Kantor Perwakilan (KPw) Provinsi Bali, Teguh Setiadi menuturkan, berdasarkan asumsi 3 bulan sejak status awas, pihaknya memprediksi pertumbuhan ekonomi Bali hanya 4,8 persen. Namun setelah letusan ini, diprediksi pertumbuhan ekonomi Bali di kisaran 5,2 persen – 5,6 persen.

Pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yaitu tahun 2016 ekonomi Bali tumbuh mencapai 6,24 persen dan tahun 2015 mencapai 6,04 persen.

Dari tanggal 1-31 Oktober 2017 saja, pendapatan pelaku usaha yang hilang karena pembatalan kunjungan ke Bali mencapai Rp 11,6 miliar. Berdasarkan pengalaman tahun 2015,terjadinya erupsi Gunung Barujari dan Gunung Raung juga mempengaruhi Bali dengan ditutupnya Bandara I Gusti Ngurah Rai. Pendapatan bandara yang hilang dengan penutupan selama 14 hari itu membuat Angkasa Pura I kehilangan pendapatan mencapai Rp 19 miliar. Selain itu, pendapatan pelaku usaha karena penutupan Bandara Ngurah Rai saat itu mencapai Rp 79, 96 miliar.

Bank Indonesia KPw Bali sendiri telah melakukan mitigasi risiko pelambatan ekonomi Bali yang kemungkinan terjadi karena erupsi Gunung Agung. “Pak Iman sudah ngumpulin perbankan terkait dengan kredit-kredit yang potensial terganggu,” ungkapnya. Pengelolaan debitur yang diberlakukan secara khusus harus jelas dan terpusat. “Artinya, harus disepakati debitur-debitur yang memang betul-betul terdampak langsung dari Gunung Agung. Perbankan diminta nge-list nasabah-nasabah yang terdampak,” ujarnya. Perlakuan khusus tersebut bisa berupa restrukturisasi, rescheduling atau jika memang terlalu parah bisa sampai hapus buku.

Baca juga:  Diharapkan, Pengungsi Mandiri Dibantu Logistik

Ia memprediksikan, jika situasi seperti ini sampai Desember, pertumbuhan ekonomi Bali akan lebih rendah dari 5,2 persen. Karena peak season yang biasanya dimanfaatkan untuk menggenjot pendapatan di akhir tahun, dengan adanya erupsi Gunung Agung, tidak bisa lagi menutupi target yang diinginkan.

Yang bisa dilakukan saat ini dalam jangka waktu dekat bisa dengan mencari alternative baru keluar masuk Bali, seperti lewat laut. Sehingga penyebrangan Gilimanuk dan Padangbai harus dimaksimalkan. Meskipun sebagian besar ekonomi Bali lumpuh terutama di Karangasem dan daerah dekat Karangasem, namun daerah lain seperti Denpasar masih beraktivitas seperti biasa.

Dari sisi pengelola pariwisata, Wakil Ketua DPP IHGMA, I Made Ramia Adnyana mengatakan, memang saat ini kondisi hotel dan pariwisata sedikit menurun, seiring dengan ditutupnya Bandara International I Gusti Ngurah Rai Bali. Hal itu menyebabkan banyak terjadi pembatalan kedatangan dan keberangkatan dari dan menuju Bali.

Mengantisipasi terjadinya penurunan ini, pihak hotel sementara membantu para wisatawan baik international maupun domestik dengan pelayanan informasi tentang bandara, maskapai serta status terkini dari Gunung Agung sendiri. “Kita menyiapkan hospitality deskkhusus untuk ini,” ujarnya.

Di lain pihak sebagai hotel yang lokasinya dekat bandara, pihaknya juga menyediakan akomodasi untuk tamu-tamu yang akan berangkat sesuai imbauan dari Gubernur, PHRI dan Bali Tourism Board (BTB). Di internal perusahaan, pihaknya melakukan pengetatan pengeluaran (saving) dan menunda pembelian hal hal yang berkaitan dengan Capex sampai kondisi lebih baik. “Kondisinya memangunpredictable sekali. Sehingga agak susah melakukan forecast (perkiraan) ke depan dengan situasi yang nggak pasti ini,” imbuhnya.(citta maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.