Sejumlah warga dari Desa Dukuh menempati Fasum di Desa Tembok selama mengungsi. (BP/mud)
SINGARAJA, BALIPOST.com – Ribuan pengungsi yang merupakan warga Karangasem dari kawasan rawan bencana (KRB) II dan III kembali memenuhi posko pengungsian di Desa Tembok, Minggu (26/11). Setidaknya sekitar 3.100 orang mengungsi ke Desa Tembok karena aktivitas Gunung Agung yang mengalami peningkatan, bahkan sudah meletus magmatik.

Salah seorang pengungsi Luh Rumadani menuturkan, kemunculan cahaya magma dari dalam kawah pada pukul 23.00 pada Sabtu malam sempat membuat dirinya panik. Tadinya akan bertahan di rumah, namun dia bergegas turun ke pengungsian yang dipusatkan di sekitar tambang Galian C Bumi Pasir Mandiri. “Begitu lihat seperti api di gunung angsung keluar rumah untuk mengungsi,” katanya.

Sementara itu, Perbekel Dukuh I Gede Sumiarsa mengatakan, asap terus mengepul di kawah sejak Sabtu malam. Kondisi itu memaksa ia memerintahkan warga segera mengosongkan desa.

Sejak Sabtu (25/11) malam warganya sudah meninggalkan rumah dan dievakuasi ke sejumlah titik. Mereka langsung diarahkan menempati sejumlah fasilitas umum (fasum) yang telah disiapkan. Diantaranya di Balai Desa Tembok serta sebuah gudang yang ada di dekat kantor perbekel. Pengungsi tak diizinkan membangun tenda, karena saat musim hujan kondisinya rawan bagi pengungsi.

Baca juga:  Ribuan Siswa Masih di Pengungsian  Pengelolaan Dana BOS Bermasalah

Sumiarsa mengatakan, mengevakuasi ribuan warga masih mengalami hambatan serius. Untuk sekali mengangkut 500 orang digunakan enam truk. Empat truk diantaranya bantuan dari Polsek Kubu. Armada itu belum mencukupi, dan ditambah kerusakan jalan terutam di Dukuh bagian atas. “Masih kurang armada dan jalan di atas sana ada yang belum diaspal jadi sedikit menyulitkan evakuasi warga,” jelasnya.

Sementara itu, Koordinator Relawan Desa Tembok, Dewa Willy Asmawan mengatakan, aparat desa siap menerima pengungsi hingga delapan ribu jiwa. Dengan catatan, para pengungsi siap diajak bekerjasama dalam mengelola pengungsian.

Mereka juga harus hidup teratur dan tertib, serta bersikap kooperatif selama ada di pengungsian. “Kami akan membantu pengungsi dan gedung-gedung fasum sudah siap menampung pengungsi. Nanti, kalau fasum penuh, ada rumah-rumah warga yang kami siapkan,” katanya. (Mudiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.