Lumpuh
I Gusti Ayu Devita Sari yang akrab pangilan Gex Tirta yang menderita sakit lumpuh otak saat duduk bersama ibuknya Ni Wayan Ayik. (BP/nan)
AMLAPURA, BALIPOST.com – Nasib kurang beruntung dialami oleh I Gusti Ayu Devita Sari (3,4 tahun) putri dari pasangan Ni Wayan Ayik (27) dan I Gusti Ngurah Putra (33). Balita asal Banjar Kedungdung, Desa Besakih, Rendang, Karangasem tersebut sejak berumur 1 tahun 8 bulan menderita penyakit cerebral palsy (lumpuh otak). Atas kondisi tersebut, membuat balita yang akrab disapa Gek Tirta itu tidak bisa berjalan dan berbicara seperti layaknya balita pada umumnya.

Orang tua I Gusti Ayu Devita Sari, Ni Wayan Ayik saat diwawancara di kediamannya di Banjar Kedungdung, Desa Besakih, Kamis (16/11) menceritakan, ketika lahir anaknya dalam kondisi normal seperti anak pada umumnya. Dimana anaknya terkana penyakit lumpuh otak tersebut setelah berumur 1 tahun 8 bulan. Dia menceritakan awalnya anaknya menderita sesak nafas.

Setelah itu, dirinya memeriksakan anaknya ke Puskesmas Rendang. Karena saat diperiksakan di puskesmas anaknya pingsan, akhirnya dirujuk ke RSU Klungkung dan dari RSU Klungkung langsung dirujuk ke RS Sanglah di Denpasar. “Selama di Sanglah anak saya sempat koma selama 7 hari tidak sadarkan diri. Setelah diperiksa, akhirnya dokter mendiagnosa kalau anak saya menderita Cerebral Palsy (lumpuh otak),” ucapnya.

Dia menjelaskan, akibat penyakit tersebut putrinya tidak bisa berbicara dan berjalan seperti halnya anak normal lainnya. Karena kedua kakinya tidak kuat untuk berdiri. Begitu juga berbicara tidak beraturan. Dia menjelaskan, sebelumnya anaknya memang sempat menjalani terapi di RS Sanglah. Selama proses terapi tersebut, sedikit mulai ada perubahan. Dimana anaknya sudah bisa duduk kalau pakai sandaran. Hanya saja, sekitar dua tahun dirinya tidak bisa lagi mengajak anaknya untuk terafi ke Sanglah. Sebab, tidak ada biaya untuk melakukan terafi tersebut.

Baca juga:  Lumpuh, Mantan Kadus Ini Tak Sanggup Berobat Lagi Karena Biaya

“Kalau dulu memang sempat terapi. Tapi sekitar dua tahun sudah tidak lagi. Karena tidak ada biaya untuk terapi. Maka saya berhenti terapinya ke Sanglah. Sekarang hanya pijet saja di Dalem Puri. Nanti kalau sudah punya uang, mungkin saya ajak terapi lagi,” katanya.

Dikatakannya, dengan pekerjaan sebagai pedagang  yang penghasilannya per hari hanya Rp 100 rupiah, diakuinya tidak cukup untuk biaya terapi. Terlebih lagi lagi, semenjak status Gunung Agung awal 22 September lalu, dirinya tidak lagi bisa berjulan. Sehingga pemasukan tidak ada lagi. Sementara suaminya, hanya sebagai guide yang penghasilannya tidak menentu.

“Saya berjulan sate dan bakso di Pura Dalem Puri. Tapi sekarang belum bisa jualan lagi, karena masih sepi pemedek yang tangkil karena kondisinya masih seperti ini. Jadi terpaksa sekarang ini saya buat tamas dan porosan untuk dijual. Biar ada saja pemasukan untuk di dapur,” jelasnya.

Ditanya apakah sudah memiliki jaminan kesehatan JKN-KIS, Anyik menjelaskan kalau saat ini memang sudah memiliki JKN-KIS. Meski begitu, pihaknya tetap tidak bisa melakukan terafi. Sebab, biaya transport untuk ke Denpasar tidak ada. “Kalau sekali ke Denpasar menghabiskan uang sekitar Rp 600 ribu. Sedangkan sekarang sama sekali tidak punya uang sebanyak itu. Untuk memenuhi kebutuhan dapur saja susah,” terangnya. (eka prananda/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.