Devy Syahbana. (BP/nan)
AMLAPURA, BALIPOST.com – Pascaditurunkannya status Gunung Agung dari level IV (Awas) ke level III (Siaga), Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bakal kembali menerbangkan drone. Alat itu akan digunakan untuk memantau perkembangan terkini di dasar kawah.

Penerbangan drone itu rencananya bakal dilaksanakan pada 18 November. “Rencananya kita akan kembali menerbangkan dua drone untuk memantau dasar kawah Gunung Agung. Drone yang akan dipakai merupakan drone milik kita yang baru dibeli. Drone yang akan dipakai khusus drone untuk memantau termal dan visual. Dan satu drone untuk memantau gas yang ada di Gunung Agung,” ungkap Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur, Devy Kamil Syahbana, Senin (13/11).

Devy Syahbana menambahkan, untuk menerbangkan drone tersebut tetap akan dilakukan di sebelah utara atau di Kubu. Sebab, di Kubu terdapat landasan pacu yang cukup panjang. “Untuk menerbangkan drone memang butuh lahan yang panjang. Kalau lahannya tidak mencukupi, maka drone tidak bisa naik,” katanya.

Dikatakannya, penerbangan drone yang akan dilakukan itu untuk mengetahui perkembangan terkini yang terjadi di dasar gunung Agung. Kata dia, hasil dari pemantauan melalui drone itu, nantinya akan dijadikan sebagai bahan untuk menentukan status gunung Agung apakah akan tetap berada di level siaga atau diturunkan ke waspada. “Untuk penurunan status ke waspada kita jelas akan lihat dulu perkembangan gunung setelah dilakukan pemantau melalui udara maupun alat pendukung lainnya yang dipasang untuk memantau Gunung Agung. Kalau gas magmatiknya masih tinggi, kegempaan juga masih banyak dan aktivitas lainnya belum menunjukkan penurunan, maka status tetap berada di siaga,” jelasnya.

Baca juga:  Selamatkan Bali dari Narkoba, Ini yang Dilakukan BNNP Bali

Jika semuanya parameter mengalami penurunan, kemungkinan status Gunung Agung akan kembali turun. Disinggung terkait perkembangan terkini Gunung Agung, Syahbana menyatakan jika aktivitas kegempaan vulkanik masih tinggi. Itu bisa dilihat dari kepulan asap yang keluar cukup tinggi. Bahkan disertai dengan keluarnya gas yang lumayan besar.

Mengingat gas magmatiknya masih tinggi, artinya masih ada aktivitas di dalam gunung. Begitu juga dengan penggembungan gunung yang terjadi mencapai 6 cm belum mengalami pengempisan. “Sampai sekarang magma belum membeku. Suplai energi masih ada di dalam perut gunung. Itu dibuktikan dengan masih keluarnya asap ke permukaan. Itu menandakan di dalam gunung masih ada pemanasan. Kalau tidak ada pemanasan, pasti tidak ada asap yang keluar dari rekahan di dasar kawah,” tegas Devy Syahbana. (Eka Parananda/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.