Diskusi digelar untuk memperingati hari Ulang Tahun Miwon ke-44. (BP/son)
JAKARTA, BALIPOST.com – Tak semua pahlawan harus gugur di medan laga. Masih banyak para pejuang berjiwa ksatria yang hidup dalam keseharian kita, salah satunya pedagang bakso keliling.

Kisah heroik mereka tertuang penuh dalam acara diskusi interaktif bertajuk ”Pejuang Ekonomi Mikro” yang digelar PT Miwon Indonesia bersama Dompet Dhuafa di kantor Miwon, Pulo Gadung, Jakarta, Kamis (9/11).

Dalam diskusi yang digelar untuk memperingati hari Ulang Tahun Miwon ke-44 tersebut, hadir para pedagang bakso sebagai narasumber. Salah satu segmen diskusi mengupas tentang makna pahlawan dari kisah perjuangan para pedagang bakso.

Adalah Midi, salah seorang pedagang bakso, menuturkan awal perjuangannya memulai usaha pada tahun 1992 lalu. “Tidak mudah memulai usaha dari nol karena harus merasakan jatuh bangun dan tambal sulam modal. Berkali-kali mencoba mencari tempat yang strategis untuk berjualan namun selalu berujung dengan kegagalan, bahkan terkadang mendapat perlakuan yang kurang baik dari pedagang bakso lainnya. Namun, dengan ikhtiar dan tekad yang kuat akhirnya saya merasakan manisnya perjuangan,” ujar Midi.

Kini, usaha Midi semakin maju, ia bisa membeli rumah, kendaraan, memiliki peternakan dan bisa menghidupi keluarga serta mertuanya. Bagi Midi, makna pahlawan adalah ketika seseorang mampu hidup mandiri dan berpijak di atas dua kakinya serta berupaya menyiapkan generasi penerus bangsa dengan memberikan pendidikan yang baik.

Baca juga:  Ketua MPR: Ilmu, Syarat Menjemput Masa Depan

Kisah berbeda dituturkan oleh Joko, pedagang bakso lainnya. Menurut Joko, dirinya bukan sekedar berdagang tapi juga ”menyelamatkan” nyawa konsumen. “Nyawa konsumen lebih penting daripada materi. Saya sangat menyadari, makanan yang dijual dan disajikan sangat berpengaruh terhadap tubuh konsumen. Karena itu, saya tidak ingin membahayakan mereka dengan menggunakan bahan tambah pangan berbahaya seperti boraks,” tuturnya.

General Manager Affair PT Miwon Indonesia, I Wayan Mariyadi berharap, para pedagang bakso dapat lebih mandiri secara finansial, sehingga dapat memperbaiki taraf hidup keluarga sambil tetap menyajikan makanan sehat dan layak konsumsl yaitu makanan yang bebas boraks, formalin dan pewarna tekstil.

Sementara Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa Ismail A. Said mengatakan, pihaknya memiliki prosedur terkait seleksi dan verifikasi mitra, melalui assessment yang komprehensif. “Dengan terpilihnya mitra yang tepat, maka efektivitas dan keberhasilan program berupa kemandirian ekonomi dapat terwujud,” kata Ismail. (Nikson/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.