Sejumlah umat Hindu bersembahyang di Pura Besakih, Jumat (20/10). (BP/nan)
AMLAPURA, BALIPOST.com – Penurunan level aktivitas Gunung Agung dari level IV (awas) menjadi level III (siaga), Minggu (29/10) sore membuat para pengungsi lega. Mereka sejak Senin (30/10) pagi sudah berkemas-kemas mempersiapkan diri pulang ke desa-desanya setelah ditinggal mengungsi selama 37 hari.

Portal penghalang yang sebelumnya dipasang di radius 12 km, juga diminta dipindahkan ke radius 6 km, tepatnya di pintu masuk menuju wilayah KRB III. Termasuk juga bagaimana pengelolaan Kawasan Pura Besakih selanjutnya.

Menurut Wakil Bupati Karangasem, Wayan Artha Dipa, Pura Besakih bisa dibuka untuk umat yang ingin bersembahyang. “Kalau menurut saya, sebaiknya kalau tujuannya mau sembahyang bisa dibiarkan masuk Pura Besakih. Doa untuk keselamatan umat dan kedamaian alam tidak boleh putus,” ujarnya.

Tetapi, ia menegaskan kalau untuk aktivitas pariwisata, sebaiknya jangan dulu. “Kita harus punya rasa empati kepada warga Besakih yang masih mengungsi. Warganya saja mengungsi, masak sekarang sudah bisa dipakai berwisata,” kata Artha Dipa.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyatakan pemerintah siap memfasilitasi pengungsi untuk pulang apabila dibutuhkan, termasuk juga ternaknya. Para pengungsi di sejumlah titik pengungsian, Senin (30/10), terlihat banyak menggunakan kendaraan pribadi untuk kembali ke desanya.

Barang-barang seperti kasur, baju, selimut dan kebutuhan dasar lain di pengungsian, diangkut menggunakan mobil pick-up. Seperti yang terlihat di titik pengungsian di Desa Pertima, ratusan warga pengungsi dari Desa Bebandem memilih kembali ke desanya, setelah mengetahui level aktivitas Gunung Agung sudah turun menjadi siaga.

Baca juga:  Anggota Brimob Diserang, Senpi Dirampas

Sekretaris Desa Pertima, Wayan Sulandera, mengatakan dari total 764 orang pengungsi di desa ini, hingga siang tercatat sudah 120 orang langsung memutuskan pulang. Sisanya 644 orang masih bertahan di pengungsian. Sisanya juga nampak akan segera pulang, mengikuti pengungsi yang lain.

Warga pengungsi lainnya, seperti dari Desa Amerta Bhuana, Kecamatan Selat, juga sudah ramai-ramai pulang ke rumahnya. Tetapi, perbekel setempat Wayan Suara Arsana, meminta warganya selalu memperhatikan beberapa hal, yakni tetap waspada dan siaga di rumah masing-masing, karena kondisi Gunung Agung belum dipastikan normal, melainkan statusnya masih siaga.

Warga juga diminta selalu berkoordinasi dengan klian banjar dinas untuk menerima informasi yang benar terkait aktivitas Gunung Agung. Sehingga, dicek dulu kebenarannya sebelum melangkah. Ini untuk menghindari hoax, yang sangat cepat menyebar dan sengaja dihembuskan pihak tertentu untuk membuat warga panik.

Selama belum ada kepastian bahwa Gunung Agung dalam situasi normal, Perbekel Suara Arsana tetap meminta ternak warga sebaiknya dibiarkan dulu di tempat pengungsian. (Bagiarta/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.